MALAM merayap makin pekat di luar benteng barak militer utara, sebuah markas pertahanan strategis yang terletak di pinggiran Memphis. Di dalam tenda komando utama yang terisolasi dari lalu lalang prajurit patroli, nyala lilin lemak sapi menari-nari ditiup angin gurun yang menyusup dari sela-sela kain terpal tebal.
Jenderal Horemheb duduk sendirian di atas kursi kayu berkaki silang. Jemarinya yang kasar memegang piala tembaga berisi anggur pahit, sementara pikirannya masih membara oleh sisa-sisa amarah atas penolakan Akhenaten di Balai Perang Akhetaten.
Tanpa hembusan angin atau derap langkah pengawal, tirai tenda perlahan tersingkap. Sebuah sosok berkerudung jubah kusam melangkah masuk ke dalam remang ruangan. Sosok itu membuka penutup kepalanya, memamerkan kepala plontos licin yang memantulkan cahaya temaram lilin—Pendeta Tinggi Merire.
Horemheb tidak kaget. Ia hanya melirik dingin seraya meneguk anggurnya hingga tandas. "Kau mempertaruhkan lehermu dengan merayap ke barakku malam-malam begini, Merire. Jika pengawal Nubia Akhenaten melihatmu, tubuhmu akan menjadi makanan anjing gurun sebelum fajar."
Merire tersenyum tipis—sebuah senyuman yang sarat akan racun diplomasi. Ia melangkah mendekati meja peta, menatap lempengan-lempengan Surat Amarna yang sengaja dibiarkan berserakan oleh Horemheb.
"Pengawal Nubia itu sibuk menjaga gerbang kota Amarna yang indah, Jenderal," bisik Merire, suaranya parau menembus keheningan. "Mereka tidak peduli bahwa benteng-benteng perbatasan kita di Kanaan sedang rata dengan tanah. Tapi Anda peduli, bukan?"
Horemheb mengepalkan tangannya di atas meja, matanya memancarkan ketajaman yang berbahaya. "Jangan coba bermain kata-kata denganku, Pendeta. Katakan apa mau Ptahmoses, atau aku sendiri yang menyerahkan kepalamu ke meja Akhenaten besok pagi."
Merire memajukan tubuhnya, menatap langsung ke dalam sepasang mata sang jenderal veteran. "Ptahmoses ingin menawarkan apa yang ditolak oleh Firaun gila itu: kekuasaan penuh untuk bergerak."
Merire mengeluarkan sebuah gulungan papirus tua dari balik jubahnya yang disegel dengan rahasia stempel emas kuno. "Kuil Karnak masih memiliki jaringan emas dan pengaruh di antara para gubernur perbatasan. Jika militer mengambil alih komando di Kanaan tanpa menunggu izin dari Amarna, Kuil Karnak akan membiayai seluruh perbekalan, senjata perunggu, dan jatah gandum untuk lima puluh ribu prajuritmu secara rahasia."
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (28): Byblos Jatuh ke Tangan Musuh!
Horemheb menatap gulungan papirus itu dengan napas tertahan. "Itu adalah tindakan makar terhadap Firaun."
"Firaun telah meninggalkan kalian demi piringan matahari di atas pasir Amarna, Horemheb!" bentak Merire dengan bisikan yang sangat tajam. "Apakah Anda akan membiarkan kekaisaran teragung ini hancur hanya demi kesetiaan pada seorang raja yang menolak memegang pedang? Rakyat dan para prajurit butuh seorang pelindung yang nyata, bukan penyair yang sibuk mengukir batu Talatat!"
Horemheb terdiam kaku. Pikirannya bergejolak hebat di antara sumpah kesetiaan prajurit dan kenyataan pahit bahwa kekaisaran sedang diambang kehancuran geopolitik. Tawaran rahasia dari Karnak adalah sebuah buah simalakama yang sangat memikat sekaligus mematikan.
"Apa syarat yang diminta Ptahmoses sebagai imbalan emas ini?" tanya Horemheb, suaranya memberat penuh kalkulasi.
Merire menyunggingkan senyum kemenangan yang kejam. "Sederhana. Biarkan Akhenaten terisolasi dalam sangkar indahnya di Amarna. Dan ketika saatnya tiba—saat rakyat dan militer muak oleh kekalahan di luar—Anda cukup berdiri diam dan biarkan kami mengembalikan tatanan hukum Ma'at yang sejati ke tanah Mesir."
Angin malam meraung keras di luar tenda, membawa badai pasir halus yang menampar kain terpal. Di dalam kegelapan barak utara, persekutuan terlarang antara amarah militer yang terabaikan dan dendam teokrasi lama baru saja merajut benang pengkhianatan pertama yang akan mengguncang takhta Kota Cahaya.
(Bersambung)
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Beragam Sumber