SUARA tangis bayi yang melengking jernih memecah ketegangan malam di Paviliun Suci Istana Akhetaten. Di luar pintu berukir teratai, Firaun Akhenaten berjalan mondar-mandir dengan langkah gelisah. Wajah tirusnya basah oleh peluh, sementara jemari panjangnya tak berhenti mencengkeram jubah linen putihnya. Ketika pintu cedar akhirnya terbuka, Ratu Tiye melangkah keluar dengan senyum tipis yang sarat akan keharuan mendalam, mengapit sebuah gumpalan kain linen halus di lengannya.
"Seorang putra, Akhenaten," bisik Ratu Tiye, suaranya bergetar lembut. "Langit Amarna telah memberimu seorang pangeran penerus."
Akhenaten berlutut perlahan, menerima bayi kecil yang tangannya menepis udara malam. Pangeran kecil itu lahir dari rahim Putri Kiya—istri sekunder istana—membawa kehangatan baru di tengah badai konspirasi yang sedang mengepung kota cahaya tersebut. Di bawah siraman cahaya bulan yang menerobos dari paviliun tanpa atap, Akhenaten mengangkat bayi itu tinggi-tinggi ke arah langit.
"Namamu adalah Tutankhaten—Citra Hidup Aten," proklamasi Akhenaten dengan nada haru yang mendalam. "Kau lahir di atas tanah yang murni ini, dan di tanganmulah fajar monoteisme ini akan diteruskan hingga akhir zaman."
Di sudut ruangan, Nefertiti berdiri mengamati momen bersejarah itu. Meski wajahnya tetap memancarkan keanggunan yang dingin, sepasang mata gelap sang Ratu Agung menyimpan kalkulasi politik yang amat tajam. Kehadiran pangeran laki-laki pertama di Amarna adalah berkah teologis bagi visi Akhenaten, namun sekaligus menjadi magnet ancaman baru bagi masa depan kekaisaran yang sedang berguncang.
"Dia lahir di saat yang teramat rentan, Akhenaten," ujar Nefertiti lembut seraya melangkah mendekati suaminya. "Horemheb makin menjauh di barak utara, dan berita tentang kelahiran seorang pangeran mahkota akan membuat gerobak pengkhianat di Karnak bergerak lebih cepat sebelum anak ini tumbuh dewasa."
Dugaan Nefertiti presisi tanpa cela. Hanya dalam hitungan hari, kabar tentang kelahiran Pangeran Tutankhaten menjangkau kota tua Thebes melalui jalur mata-mata.
Di dalam Aula Hypostyle Kuil Karnak yang dingin dan temaram, Pendeta Tinggi Merire membanting papirus laporan lahir itu ke atas altar batu. Wajahnya pucat pasi oleh kombinasi kekagetan dan amarah.
"Anak itu lahir, Ptahmoses!" jerit Merire, matanya berkilat oleh kegelisahan yang memuncak. "Akhenaten kini memiliki pewaris darah murni di Amarna! Jika pangeran kecil itu dididik di bawah teologi Aten sejak bayi, maka pupus sudah harapan kita untuk mengembalikan kekuasaan Amun-Ra setelah Akhenaten mati!"
Ptahmoses yang terbaring kaku di atas kursi kayunya perlahan membuka matanya yang kusam. Sepasang mata rabun sang pendeta tua menatap lurus ke arah patung batu Amun yang berdebu. Senyum dingin yang picik dan kejam perlahan terukir di bibirnya yang keriput.
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (29): Utusan Rahasia Karnak Menerobos Barak Militer Utara
"Jangan panik, Merire," bisik Ptahmoses dengan suara parau yang begitu dingin hingga sanggup membekukan udara di ruangan itu. "Kelahiran seorang pangeran muda di tengah krisis perang bukanlah ancaman... melainkan sebuah peluang terbesar yang diberikan oleh para dewa kepada kita."
Merire mengerutkan dahinya, bingung. "Peluang? Bagaimana mungkin seorang pewaris menjadi peluang bagi kita?"
"Bayi itu adalah kanvas kosong, Merire," Ptahmoses menegakkan punggungnya yang bungkuk, jemarinya mencengkeram erat tongkat batunya. "Akhenaten makin terasing dengan idealismenya, dan Horemheb telah mengikat janji rahasia dengan kita. Jika badai geopolitik di perbatasan akhirnya meruntuhkan kekuasaan Akhenaten, kita tidak perlu menghancurkan garis keturunannya. Kita cukup mengambil pangeran kecil Tutankhaten itu dari Amarna, memboyongnya kembali ke Thebes, dan mendidiknya di bawah ibu jari kita!"
Ptahmoses tersenyum keji, membayangkan masa depan yang gelap. "Kita ubah namanya, kita ganti teologinya, dan kita jadikan dia Firaun boneka yang akan menandatangani pemulihan seluruh harta dan kekuasaan Kuil Karnak!"
Kelahiran Pangeran Tutankhaten yang seharusnya menjadi puncak sukacita di Kota Cahaya Amarna justru menjadi awal dari tarik-menarik takhta yang teramat berdarah. Di balik kepolosan sang bayi muda, bayang-bayang persekongkolan antara kekuatan militer Horemheb dan dendam teokrasi Karnak kini siap menanti momen terbaik untuk merebut masa depan Mesir Kuno.
(Bersambung)
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Beragam Sumber