KOTA Cahaya yang dibangun dari impian kebebasan itu mendadak diselimuti kabut kelam. Angin panas dari selatan yang berembus di sepanjang cekungan Amarna tidak lagi membawa aroma wangi minyak cedar dan bunga teratai, melainkan bau busuk penyakit dan kecemasan yang membakar. Sebuah wabah misterius—penyakit demam tinggi yang merenggut napas dalam hitungan hari—merekah cepat di antara pemukiman pekerja, menyusup melewati dinding-dinding batu Talatat, hingga akhirnya menembus gerbang berlapis emas Istana Utama Akhetaten.
Di dalam kamar kediaman putri-putri kerajaan, jeritan duka pecah membelah heningnya malam. Pangeran Akhenaten berlutut di tepi peraduan batu, menggenggam jemari mungil Putri Meketaten—putri pertamanya yang baru berusia sembilan tahun—yang kini dingin tak bernyawa. Di sampingnya, Ratu Nefertiti merangkul tubuh putrinya yang kaku dengan derai air mata yang jatuh tanpa suara. Keanggunan dingin sang Ratu Agung runtuh seketika di hadapan maut yang tak memandang jubah kebesaran.
Wabah itu melahap tanpa ampun. Dalam hitungan minggu, penyakit misterius tersebut tidak hanya merenggut nyawa Putri Meketaten, tetapi juga merambat cepat merenggut nyawa Putri Kiya—ibu kandung dari bayi Tutankhaten—serta beberapa kerabat dekat keluarga kerajaan.
"Mengapa, Aten...?" bisik Akhenaten dengan suara parau yang hancur, menengadah menatap langit malam dari paviliun tanpa atap. "Kota ini dibangun murni untuk keagungan-Mu! Mengapa Engkau biarkan kegelapan ini merenggut bunga-bunga di rumahku?"
Nefertiti berdiri dengan tubuh gemetar, menghapus air matanya seraya menatap wajah tirus suaminya yang kian cekung oleh duka. "Ini bukan hukuman dari Aten, Akhenaten... Ini adalah racun yang merayap dari luar. Seseorang telah membawa penyakit ini masuk untuk meruntuhkan jiwa kita dari dalam!"
Dugaan Nefertiti bergaung kencang di tengah kepanikan publik. Di pasar-pasar tradisional dan jalanan Amarna, desas-desus mulai disebarkan oleh mata-mata tersembunyi bahwa wabah misterius ini adalah bukti nyata "kutukan Amun-Ra" atas keberanian Akhenaten membuang dewa-dewa tua.
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (30): Kelahiran Pangeran Tutankhaten
Di kota tua Thebes, berita duka dari Amarna dirayakan di balik pintu-pintu gelap Kuil Karnak.
Pendeta Tinggi Merire tersenyum puas di depan patung emas Amun-Ra, mendengarkan laporan dari utusan rahasianya. "Dewa-dewa telah bertindak, Ptahmoses! Wabah itu memakan keluarga Firaun gila itu satu per satu! Rakyat di Amarna mulai panik dan mempertanyakan keberadaan Aten!"
Ptahmoses yang makin renta dan lumpuh di atas kursi batunya mengangguk pelan dengan binar mata yang kejam. "Duka adalah racun terbaik untuk melumpuhkan pikiran seorang pembaharu, Merire. Akhenaten sedang hancur secara mental. Saat jiwanya tenggelam dalam ratapan, dia akan makin mengabaikan urusan militer dan perbatasan. Ini saatnya kita instruksikan Horemheb untuk memperketat pengepungan politiknya!"
Duka mendalam di Istana Utama Amarna mengubah Akhenaten secara drastis. Sang Firaun yang bertauhid mulai mengurung diri di dalam ruang ibadah, mengabaikan gulungan papirus pemerintahan dan Surat Amarna yang kian menumpuk. Pucuk pimpinan kekaisaran yang berguncang kini sepenuhnya berada di atas bahu Ratu Nefertiti—seorang ibu yang harus menahan duka kehilangan anak, sekaligus seorang penguasa yang harus menjaga agar benteng Kota Cahaya tidak runtuh diterjang badai dari dalam dan luar.
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (29): Utusan Rahasia Karnak Menerobos Barak Militer Utara
(Bersambung)
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Beragam Sumber