Pengangkatan Smenkhkare sebagai Co-Regent baru membawa dinamika politik baru di dalam koridor Istana Akhetaten. Di balik penampilannya yang muda dan rupawan, Smenkhkare bukanlah sekadar sosok pajangan. Ia dibesarkan di tengah gelombang radikalisme Amarna, namun memiliki kelicikan pragmatis yang tidak dimiliki oleh Akhenaten. Bagi Smenkhkare, mempertahankan visi monoteisme Aten membutuhkan diplomasi yang cerdik, bukan sekadar keteguhan dogmatis.
Di bawah petunjuk Ratu Nefertiti, Smenkhkare menyusun sebuah langkah berani untuk memecah kebuntuan politik dengan militer. Ia menyadari bahwa membiarkan Jenderal Horemheb berlama-lama berada di bawah pengaruh bisikan Kuil Karnak di barak utara adalah kesalahan mematikan.
Malam itu, di dalam paviliun tertutup, Nefertiti dan Smenkhkare berdiri mengelilingi peta wilayah Memphis—kota tua yang kini menjadi markas konsentrasi pasukan militer terbesar Mesir.
"Horemheb tidak sepenuhnya setia pada Karnak, Smenkhkare," bisik Nefertiti seraya menunjuk titik koordinat markas militer di Memphis. "Dia adalah prajurit sejati yang haus akan ketertiban dan kejayaan militer. Dia bersekutu dengan Merire hanya karena Akhenaten menolak memberinya pasukan ke Kanaan."
Smenkhkare mengangguk, matanya berkilat oleh kalkulasi yang matang. "Maka hamba akan datang langsung menemuinya di Memphis, Gusti Ratu. Hamba akan membawa janji yang tidak bisa diberikan oleh para pendeta Karnak: kewenangan militer penuh untuk memimpin perbatasan, atas nama Firaun."
"Ini misi yang sangat berbahaya," peringat Wazir Ay yang berdiri di sudut ruangan. "Jika Horemheb telah menjual kesetiaannya secara utuh kepada Karnak, Anda sama saja menyerahkan leher Anda ke dalam kandang serigala."
"Tanpa keberanian melompati api, Amarna akan mati perlahan dalam pengepungan ini, Wazir Ay," sahut Smenkhkare mantap.
Dengan menyamar sebagai pengawal kargo gandum istana dan hanya diiringi lima prajurit Nubia terpercaya, Smenkhkare menyusup keluar dari Amarna melalui jalur Sungai Nil di tengah pekatnya malam. Misi rahasia menuju Memphis resmi dimulai.
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (32): Nefertiti Ambil Alih Kemudi Kekaisaran
Sementara itu, jaringan mata-mata Kuil Karnak yang tersebar di sepanjang tepi sungai mencium pergerakan mencurigakan tersebut.
Di dalam ruang gelap Kuil Karnak, Merire menerima laporan pergerakan perahu rahasia itu dengan senyum kejam. Ia bergegas menemui Ptahmoses yang makin uzur.
"Smenkhkare telah meninggalkan Amarna secara rahasia menuju utara, Ptahmoses!" bisik Merire dengan mata membara oleh dendam. "Anak muda itu mencoba mendahului kita untuk merangkul Horemheb di Memphis!"
Ptahmoses mengepalkan tangannya yang kering, terkekeh parau yang terdengar bagaikan gesekan batu kuburan. "Sebuah kekhilafan yang sempurna dari pangeran muda yang gegabah. Kirim pesan kilat kepada pembunuh bayaran kita di Memphis. Jangan biarkan Smenkhkare pernah menyentuh gerbang barak Horemheb. Jika Co-Regent baru itu tewas di jalanan Memphis, Nefertiti akan kehilangan kaki kanannya, dan Amarna akan runtuh dalam kepanikan!"
Malam dingin di Memphis bersiap menyambut kedatangan sang pangeran muda. Di antara lorong-lorong sempit kota tua itu, pertempuran rahasia antara utusan Kota Cahaya dan bayangan pembunuh Karnak akan segera meletus.
(Bersambung)
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Beragam Sumber