Aroma minyak zaitun medis dan ramuan penutup luka memenuhi ruang dalam tenda utama Markas Besar Memphis. Smenkhkare duduk tenang saat tabib militer menjahit robekan di lengan atasnya. Di seberang meja kayu berlapis kulit, Jenderal Horemheb berdiri mematung, menatap bilah pedang berkepala ular kobra milik salah satu pembunuh Karnak yang baru saja dieksekusi di dermaga.
"Ptahmoses dan Merire telah bertindak terlalu jauh," gumam Horemheb, suaranya parau oleh amarah yang tertahan. "Mencoba membunuh seorang Co-Regent di wilayah kekuasaan militerku adalah penghinaan mutlak terhadap seluruh legiun utara."
Smenkhkare mengibaskan tangannya, memberi isyarat agar sang tabib mundur. Pangeran muda itu mengancingkan kembali jubah linennya, menatap lurus ke arah sang jenderal veteran.
"Ptahmoses tidak pernah menganggapmu sebagai sekutu sejati, Horemheb," tegas Smenkhkare, suaranya jernih tanpa keraguan. "Bagi Kuil Karnak, kau hanyalah pedang yang akan mereka gunakan untuk meruntuhkan Amarna. Dan begitu Kota Cahaya itu hancur, mereka akan mencari alasan untuk membuangmu dan menggantikan posisi militer dengan kasta pengawal kuil mereka sendiri."
Horemheb meletakkan belatinya dengan hempasan keras di atas meja. "Lalu apa bedanya dengan istana di Amarna? Akhenaten membiarkan perbatasan Kanaan membusuk dan mengabaikan jeritan para prajuritku di lapangan! Aku adalah panglima tertinggi kekaisaran, tetapi tanganku diikat oleh ajaran pasifisme yang tidak masuk akal!"
"Sebab itulah aku berdiri di sini malam ini, Jenderal," potong Smenkhkare seraya berdiri melangkah mendekati Horemheb. "Aku datang bukan sebagai utusan puitis Akhenaten, melainkan atas nama Ratu Nefertiti dan masa depan kekaisaran."
Smenkhkare merogoh bagian dalam jubahnya, mengeluarkan sebuah gulungan papirus berstempel ganda emas murni—stempel resmi Co-Regent dan Ratu Agung Neferneferuaten.
"Gusti Ratu Nefertiti telah menandatangani maklumat ini," ujar Smenkhkare membentangkan papirus tersebut di hadapan Horemheb. "Kau diberi wewenang penuh atas seluruh komando militer di perbatasan utara. Kau berhak membawa lima legiun kereta perang ke Kanaan untuk menghancurkan pasukan Aziru dan menahan laju Hittite. Istana Amarna akan menyuplai seluruh kebutuhan logistik, gandum, dan senjata perunggu tanpa ada campur tangan dogma!"
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (34): Pembunuh Bayaran Karnak Sergap Smenkhkare
Horemheb terbelalak. Sepasang matanya yang tajam membaca baris demi baris maklumat tersebut. Ini adalah wewenang mutlak yang selama bertahun-tahun ia minta dari Akhenaten namun selalu ditolak.
"Apa imbalannya?" tanya Horemheb dengan nada berhati-hati.
"Kesetiaanmu yang tidak terbagi pada garis suksesi Amarna," bisik Smenkhkare tajam. "Kau harus memutus seluruh komunikasi rahasia dengan Kuil Karnak, mengamankan jalur pasokan menuju Amarna, dan bersumpah melindungi Pangeran Muda Tutankhaten jika badai terburuk menghantam istana."
Horemheb menarik napas panjang. Pilihan di hadapannya kini amat benderang: bersekutu dengan teokrasi Karnak yang licik dan berdarah dingin, atau memegang wewenang militer tertinggi dari Nefertiti demi menyelamatkan kehormatan kekaisaran di perbatasan.
Sang jenderal veteran perlahan berlutut di atas satu kaki, mencabut belati perunggunya dan meletakkannya di atas tanah di depan kaki Smenkhkare.
"Atas nama seluruh prajurit kekaisaran," janji Horemheb dengan suara bulat yang menggelegar, "hamba menerima komando ini dan memutuskan rantai dengan Karnak. Perbatasan utara akan aman di bawah pedang hamba, dan Amarna akan tetap berdiri!"
Perundingan rahasia di Memphis berakhir dengan kemenangan diplomasi mutlak bagi Nefertiti dan Smenkhkare. Namun, ketika berita kegagalan pembunuhan dan pembelotan Horemheb sampai ke telinga Ptahmoses di Thebes beberapa hari kemudian, sang pendeta tua yang murka bersiap melepaskan kartu racun terakhirnya untuk membakar Amarna dari dalam.
(Bersambung)
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Beragam Sumber