Laporan keberhasilan Smenkhkare mengunci janji kesetiaan Jenderal Horemheb di Memphis mendarat bagaikan petir menyambar di atas altar dingin Kuil Karnak. Upaya pembunuhan rahasia yang dirancang di ruang gelap Thebes tidak hanya gagal merenggut nyawa sang co-regent muda, melainkan secara tragis telah mendorong seluruh kekuatan militer utara masuk sepenuhnya ke dalam genggaman Ratu Nefertiti.
Di dalam kamar rahasia Kuil Amun-Ra, hening malam pecah oleh jeritan amarah Pendeta Tinggi Merire. Ia melemparkan cawan perunggu ke dinding pualam hingga remuk, matanya memerah oleh kombinasi kepanikan dan rasa terhina.
"Horemheb telah membelot!" teriak Merire, napasnya terengah-engah di hadapan Ptahmoses. "Dia menerima maklumat perang dari Nefertiti dan memutus seluruh jalur utusan kita di Memphis! Musang militer itu telah menjual dirinya kepada Kota Cahaya!"
Ptahmoses terduduk di atas kursi batunya. Tubuh sang pendeta agung yang makin renta dan keriput itu tampak kaku, jemari tangannya yang membiru mencengkeram erat tongkat kayu berkepala domba jantan. Kemurkaan yang membakar dadanya begitu pekat hingga bibirnya gemetar tanpa suara.
"Nefertiti..." bisik Ptahmoses parau, suaranya parau dan bergetar oleh dendam yang mendalam. "Perempuan itu telah meretas seluruh strategi kita. Dia memanfaatkan Smenkhkare untuk memberi Horemheb apa yang paling diinginkan oleh seorang prajurit: perang di Kanaan."
"Lalu apa yang tersisa dari kita, Ptahmoses?!" celetuk Merire frustrasi. "Horemheb memegang militer utara, Amarna memegang kas negara dan gandum, sementara kita terkunci di kota mati ini tanpa taring!"
Ptahmoses perlahan menegakkan punggungnya yang bungkuk. Sepasang matanya yang rabun menyala oleh kilatan kejahatan yang mematikan—sebuah nekat terakhir dari seorang penguasa teokrasi tua yang terdesak ke ujung jurang.
"Jika kita tidak bisa menghentikan Horemheb dengan pedang, maka kita matikan Amarna dengan kelaparan," bisik Ptahmoses dingin. "Kota Cahaya itu berdiri di tengah padang pasir gersang. Kehidupan mereka bergantung seratus persen pada suplai tongkang gandum dan bahan pangan yang dikirim dari wilayah Delta melalui Sungai Nil."
Merire mengerutkan dahi, mulai menangkap arah pemikiran kejam sang pendeta tua. "Maksud Anda..."
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (35): Perundingan Rahasia Memphis
"Bakar seluruh kargo pangan sebelum menyentuh dermaga Amarna!" titah Ptahmoses dengan nada mengunci takdir. "Suhukan emas rahasia kita untuk menyuap para serikat juru mudi kapal di sepanjang jalur pelayaran Tengah Mesir. Tenggelamkan tongkang kargo mereka, racuni sumur-sumur penampungan gandum di pelabuhan perantara, dan biarkan rakyat di kota pasir itu memakan debu sampai mereka memberontak dan membakar istana Nefertiti dari dalam!"
Rencana sabotase jalur pasokan logistik itu dilancarkan dalam hitungan hari dengan kejam dan presisi.
Hanya seminggu setelah kesepakatan Memphis, tiga armada kargo raksasa yang membawa ribuan ton gandum dari wilayah Delta menuju Akhetaten mendadak terbakar misterius di tengah pelayaran malam di daerah Asyut. Asap hitam membumbung tinggi di atas Sungai Nil, memuntahkan abu gandum yang hangus ke udara. Di saat yang sama, dua pelabuhan perantara suplai minyak dan daging kering disegel secara ilegal oleh kelompok pengacau yang disewa oleh jaringan Karnak.
Di Istana Utama Akhetaten, Ratu Nefertiti berdiri di balkon kerajaan bersama Wazir Agung Ay, menatap arus Sungai Nil yang kini sepi dari kedatangan kapal suplai harian.
Wazir Ay melangkah masuk dengan raut wajah pucat pasi, memegang gulungan papirus Laporan Logistik yang darurat. "Gusti Ratu... pasokan gandum di gudang utama ibu kota hanya cukup untuk sepuluh hari ke depan. Tiga armada kargo dari utara diadang dan dibakar di perairan Asyut!"
Nefertiti menyunggingkan senyum dingin yang tajam di balik wajah cantiknya. Sepasang matanya yang gelap tidak memancarkan rasa panik sedikit pun. "Ptahmoses sedang memainkan kartu keputusasaannya yang terakhir, Wazir Ay. Dia tahu kita telah mengunci Horemheb, jadi dia mencoba melumpuhkan isi perut rakyat kita."
Nefertiti berbalik menatap Smenkhkare yang baru saja tiba dengan lengan yang masih terbebat kain medis.
"Panggil Komandan Pengawal Nubia," perintah Nefertiti dengan wibawa mutlak seorang penguasa tertinggi. "Kita tidak akan lagi mengandalkan jalur kapal swasta. Mulai esok pagi, seluruh armada kargo kerajaan akan dikawal langsung oleh pasukan tempur berzirah. Dan setiap bajak laut atau utusan Karnak yang mencoba mendekati jalur pasokan air kita... gantung tubuh mereka di sepanjang tebing pelabuhan Asyut sebagai peringatan!"
Perang saraf dan sabotase jalur pasokan gandum resmi meletus, menguji seberapa kuat fondasi Kota Cahaya bertahan di bawah kejamnya pengepungan ekonomi dari teokrasi tua yang kian murka.
Baca Juga: Menenun Hijau di Tanah Bekas Tambang Amman: Jalinan Ijuk, Komitmen dan Keringat Pekerja (3/Habis)
(Bersambung)
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Beragam Sumber