Sinar matahari pagi yang membakar perairan Asyut memantulkan pendar merah pada arus Sungai Nil yang tenang namun mencekam. Bau gosong sisa-sisa kayu perahu kargo dan ribuan ton gandum yang hangus masih tercium pekat di sepanjang tepi rawa. Di pelabuhan perantara itu, para bajak laut dan agen rahasia bayaran Kuil Karnak masih merayakan keberhasilan mereka melumpuhkan jalur pasokan Amarna, tanpa menyadari bahwa angin maut sedang melaju cepat dari arah selatan.
Dari balik belokan sungai, siluet puluhan galai perang raksasa berbendera panji piringan matahari muncul menembus kabut pagi. Di atas geladak depan kapal komando utama, Komandan Nubia berdiri tegap laksana patung perunggu hitam. Baju zirah kulit lembu dan kapak perang ganda di tangannya berkilauan tersiram cahaya fajar. Di belakangnya, ratusan prajurit pemanah Nubia yang legendaris telah menarik busur komposit mereka, mengunci sasaran dengan presisi mematikan.
"Serangan balasan!" jerit pemimpin pengacau Asyut saat menyadari kehadiran armada tempur kerajaan. Namun peringatan itu terlambat.
"Lepaskan!" perintah Komandan Nubia dengan suara menggelegar.
Hujan panah berujung perunggu membubung ke udara, lalu menukik tajam menembus dada dan leher para bajak laut yang berhamburan di dermaga Asyut. Jeritan histeris pecah seketika. Sebelum kelompok sabotase Karnak sempat mengonsolidasikan barisan, galai-galai perang Nubia menghantam dermaga kayu dengan dentuman keras.
Ratusan prajurit Nubia melompati lambung kapal, mengamuk dengan kapak dan pedang Khopesh. Pertempuran jarak dekat di pelabuhan Asyut berlangsung singkat namun teramat berdarah. Agen-agen rahasia yang disewa oleh Kuil Karnak dibantai tanpa ampun; keberanian liar pasukan perbatasan Nubia meluluhlantakkan garis pertahanan pengacau dalam hitungan menit.
Komandan Nubia melangkah di antara tumpukan jasad para bajak laut, menangkap hidup-hidup pemimpin kelompok pengacau yang terluka parah di kaki. Dengan satu cengkeraman tangan kekarnya, sang komandan menyeret pria itu ke tepi dermaga batu.
"Siapa yang memberimu emas untuk membakar gandum Amarna?!" bentak Komandan Nubia, menempelkan mata kapaknya ke leher sang tawanan.
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (36): Sabotase Jalur Pasokan Gandum
Pria itu gemetar hebat, menatap panik pada jajaran mayat rekan-rekannya yang bergelimang darah. "Pendeta... Pendeta Tinggi Merire! Emas itu datang langsung dari pundi-pundi Kuil Karnak di Thebes!"
Sesuai titah mutlak Ratu Nefertiti, tidak ada ampun bagi mereka yang mencoba melupakan isi perut rakyat Kota Cahaya. Hari itu, perairan Asyut dijadikan panggung peringatan yang mengerikan bagi siapa pun yang mencoba mengganggu jalur pasokan kerajaan. Puluhan jasad agen Karnak yang tewas digantung di sepanjang tebing batu kapur pelabuhan Asyut, membentang menjadi garis batas militer yang memisahkan perbatasan Amarna dari pengaruh Thebes.
Dua hari kemudian, armada kargo gabungan yang dikawal ketat oleh galai tempur Nubia akhirnya bersandar selamat di dermaga Akhetaten. Ribuan karung gandum segar, minyak zaitun, dan daging kering dimuntahkan ke gudang-gudang ibu kota, menyapu bersih ancaman kelaparan yang sempat membayang-bayangi rakyat Amarna.
Ketika kabar tentang pembantaian Asyut dan pembersihan jalur pasokan sampai ke Kuil Karnak, Pendeta Tinggi Merire terduduk layu di lantai pualam. Kartu sabotase ekonomi yang menjadi nekat terakhir mereka telah dihancurkan secara brutal oleh efisiensi militer Nefertiti.
Di Amarna, Akhenaten berdiri di balkon istana bersama Nefertiti dan Smenkhkare, menatap irak-irakan tongkang gandum yang baru tiba. Sang Firaun yang bertauhid perlahan mengelus pundak istrinya, menyadari bahwa ketegasan dingin Nefertiti telah sekali lagi menyelamatkan takhta tauhid mereka dari jurang kehancuran.
(Bersambung)
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Beragam Sumber