Pembersihan berdarah di perairan Asyut tidak berhenti pada gantungnya jasad-jasad bajak laut di tebing batu kapur. Bagi Ratu Nefertiti dan Co-Regent Smenkhkare, meremukkan tangan pengacau di lapangan barulah separuh dari tindakan pembalasan. Duri beracun yang sesungguhnya masih menancap di dalam struktur birokrasi tua Thebes—pada para pejabat korup dan pengawas pelabuhan Malkata yang secara diam-diam membocorkan jadwal pelayaran armada gandum Amarna kepada jaringan Kuil Karnak.
Pagi itu, Aula Penghakiman di Istana Malkata yang biasanya sepi kembali membara oleh gelombang ketegangan mutlak. Di atas takhta kayu cedar berlapis emas, Firaun Akhenaten duduk berdampingan dengan Nefertiti. Di sisi kiri mereka, Smenkhkare berdiri memegang gulungan bukti pengakuan dari para tawanan Asyut, sementara Wazir Agung Ay dan jajaran hakim kekaisaran bersiaga di sekeliling meja pualam.
Di tengah balairung, belasan pejabat senior kementerian perhubungan air dan pengawas gudang Thebes berdiri gemetar dengan rantai perunggu mengikat pergelangan kaki dan tangan mereka. Wajah-wajah mereka pucat pasi di bawah tatapan dingin pasukan pengawal Nubia yang mengelilingi ruangan dengan belati terhunus.
"Membocorkan jalur rahasia pasokan pangan ibu kota di saat rakyat sedang menghadapi wabah," suara Akhenaten bergaung jernih, tenang, namun memancarkan amarah teologis yang amat dalam. "Kalian tidak hanya mengkhianati takhta kekaisaran, tetapi kalian mencoba melaparkan jiwa-jiwa murni yang menyembah Tuhan Yang Maha Esa di Akhetaten!"
Salah seorang pengawas pelabuhan tua berlutut mencium lantai, menangis histeris. "Ampunkan hamba, Yang Mulia! Kami diancam oleh utusan Kuil Karnak! Jika kami tidak menyerahkan jadwal pelayaran tongkang gandum, keluarga kami akan dibantai dan tanah kami disita!"
Smenkhkare melangkah maju, melempar kantong-kantong kulit berisi pundi-pundi emas berstempel Kuil Amun-Ra yang disita dari rumah para pengawas tersebut ke lantai pualam. Suara denting emas yang berhamburan menghentikan ratapan palsu sang pengawas.
"Ketakutan tidak membusukkan rumahmu dengan ratusan pundi emas Karnak ini, Pengawas!" tembak Smenkhkare dengan nada tajam menusuk. "Kalian menjual isi perut rakyat Amarna demi mengisi pundi-pundi pribadi kalian sendiri!"
Nefertiti menyunggingkan senyum tipis yang dingin. Sang Ratu Agung menatap Wazir Ay, memberikan isyarat bahwa masa kompromi dan ampunan telah resmi dikubur di atas pasir Amarna.
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (37): Armada Nubia Hantam Pengacau
"Hukum Ma'at menuntut keadilan yang mutlak demi menjaga kesucian tanah ini," pimpin Nefertiti, suaranya berwibawa mengunci ruang sidang. "Seluruh harta, tanah, dan pundi-pundi emas para pengkhianat ini disita atas nama kas negara Akhetaten. Dan bagi mereka yang menjual jalur air kekaisaran pada musuh..."
Nefertiti menatap Hakim Agung. "Cabut gelar kebangsawanan mereka, hapus nama mereka dari pendaftaran prasasti keluarga, dan buang mereka sebagai pekerja paksa di tambang pualam gersang Nubia hingga akhir hayat mereka!"
Ketukan palu batu Hakim Agung mengunci vonis pengkhianatan tersebut. Jeritan histeris para pejabat korup yang diseret keluar dari Balai Penghakiman Malkata bergaung kencang, memberikan pesan pembersihan yang sangat jelas ke seluruh penjuru Thebes: siapa pun yang berani menyentuh garis nadi Kota Cahaya akan dihancurkan tanpa ampun oleh stempel emas kerajaan.
Berita tentang eksekusi sidang di Malkata dan penyitaan seluruh aset jaringan rahasia Karnak meruntuhkan sisa-sisa pertahanan mental Pendeta Tinggi Merire di Kuil Karnak.
Di dalam ruangan tertutupnya, Merire terduduk kaku menatap meja batunya yang kini kosong dari emas dan pengaruh politik. Seluruh sel pengacau mereka di jalur air telah dibantai, para pejabat sekutu mereka di Malkata telah dibuang ke tambang Nubia, dan Jenderal Horemheb kini berdiri membentengi perbatasan utara atas nama Nefertiti.
Ptahmoses yang terbaring lemah di atas tempat tidurnya perlahan memejamkan matanya yang rabun. Sang pendeta agung tua itu menghela napas panjang yang sarat akan kekalahan pahit.
"Perang terbuka di jalanan dan jalur air telah selesai, Merire..." bisik Ptahmoses parau, suaranya hampir tak terdengar. "Nefertiti dan Smenkhkare telah memenangkan papan catur ini. Sekarang... kita tidak punya pilihan lain selain menunggu hingga usia Firaun gila itu sendiri yang habis oleh takdirnya..."
Sidang pengkhianatan di Malkata resmi memutus serangga-serangga sabotase terakhir dari jaringan Karnak. Kota Cahaya Akhetaten kini berdiri teguh, memegang kendali mutlak atas ekonomi, militer, dan hukum kekaisaran Mesir.
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (36): Sabotase Jalur Pasokan Gandum
(Bersambung)
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Beragam Sumber