Tahun-tahun berlalu di atas pasir emas Akhetaten bagaikan aliran air Nil yang tenang di musim kembang. Di tengah kedamaian ibu kota yang telah terkonsolidasi dan perlindungan benteng militer Horemheb di utara, Pangeran Muda Tutankhaten tumbuh menjadi seorang bocah berusia lima tahun yang lincah dan berotak tajam. Senyum dan tawa riangnya di koridor-koridor Istana Utama menjadi penawar duka yang sempurna bagi Akhenaten dan Nefertiti setelah tragedi wabah masa lalu.
Setiap pagi, di pelataran terbuka Per-Aten, Tutankhaten kecil duduk di samping ayahnya. Dengan mata bulatnya yang berbinar, ia memperhatikan jemari Akhenaten menggoreskan aksara-aksara puji-pujian untuk piringan matahari di atas papirus.
"Ingatlah ini, Putraku," ujar Akhenaten lembut seraya mengelus kepala pangeran kecil itu. "Tuhan tidak tinggal di dalam ruangan batu yang pekat dan gelap. Dia ada di balik setiap berkah sinar yang menyentuh kulitmu pagi ini, memberi kehidupan pada pohon, burung, dan seluruh manusia tanpa membeda-bedakan."
Tutankhaten mengangguk-angguk polos, jemari mungilnya mencoba meniru goresan kuas sang ayah. "Aten membuatku hangat, Ayah. Apakah Aten juga yang menjaga Ibu Kiya di langit?"
Akhenaten tersenyum haru, merangkul erat tubuh mungil putranya. "Benar, Nak. Aten menjaga semua jiwa yang murni."
Namun, pendidikan pangeran penerus takhta kekaisaran tidak hanya berisi lantunan gita puja dan teologi. Di sisi lain istana, Ratu Nefertiti dan Wazir Agung Ay menyusun kurikulum kepemimpinan yang jauh lebih keras dan pragmatis untuk melatih sang bakal Firaun.
Di bawah bimbingan Wazir Ay, Tutankhaten diajarkan membaca Surat-Surat Amarna, memahami kalkulasi pajak gandum dari wilayah Delta, hingga menghafal silsilah keluarga para raja tetangga di Babylon dan Assyria. Sementara itu, instruktur militer yang dikirim langsung oleh Jenderal Horemheb melatih pangeran kecil itu memegang busur perunggu ukuran pendek dan mengendalikan kereta perang miniatur.
"Seorang penguasa yang hanya tahu berpuisi akan ditelan oleh serigala-serigala politik, Pangeran," ujar Wazir Ay tegas saat mengawasi Tutankhaten mempelajari peta perbatasan Kanaan. "Anda harus memiliki kedalaman jiwa seperti Firaun Akhenaten, tetapi juga harus memiliki dinginnya kalkulasi strategi seperti Ratu Nefertiti."
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (39): Konsolidasi Damai Amarna
Nefertiti mengamati latihan pangeran kecil itu dari balik pilar batu Talatat. Di balik rasa sayangnya yang tulus sebagai ibu asuh, Nefertiti menyadari betul bahwa Tutankhaten adalah mahkota masa depan yang paling diincar oleh musuh-musuh mereka. Setiap kata yang diserap oleh bocah ini hari ini akan menentukan apakah peradaban tauhid Amarna akan bertahan atau hancur ketika masa depan berganti.
Sementara itu, di kota tua Thebes, berita tentang tumbuh kembangnya Pangeran Tutankhaten terus dipantau secara ketat melalui jaringan mata-mata rahasia Kuil Karnak.
Di dalam ruangan gelapnya yang kini berbau minyak herbal dan abu dupa, Pendeta Tinggi Merire berlutut di samping pembaringan Ptahmoses yang makin sekarat. Sang pendeta agung tua itu kini tak mampu lagi berdiri, namun sepasang matanya yang cekung masih memancarkan kegelapan jiwa yang belum padam.
"Anak itu sudah berusia lima tahun, Ptahmoses..." bisik Merire parau. "Dia mulai diajari membaca dan memanah di Amarna. Jika dia terus berada di bawah ketiak Akhenaten dan Nefertiti, jiwanya akan sepenuhnya terkunci dalam ajaran Aten!"
Ptahmoses terbatuk-batuk kecil, napasnya yang memburu terdengar bagaikan gesekan daun kering. Jemarinya yang keriput mencengkeram lengan baju Merire dengan sisa kekuatan terakhirnya.
"Sabar, Merire... sabar..." bisik Ptahmoses dengan suara yang hampir tenggelam oleh sakaratul maut. "Biarkan mereka mendidiknya di Amarna... Biarkan anak itu belajar memegang busur dan membaca peta... Karena makin cerdas anak itu tumbuh, makin bernilai dia saat kita merebutnya kembali ke Karnak..."
Ptahmoses mengembuskan napas panjang, tersenyum keji membayangkan masa depan. "Anak itu adalah kunci pembalasan kita. Suatu hari nanti... nama Tutankhaten itu akan kita hapus, dan kita ganti menjadi Tutankhamun di atas altar kita sendiri!"
Bayang-bayang perebutan jiwa sang pangeran muda kini mulai terbentang secara perlahan. Di Kota Cahaya Amarna, Tutankhaten tumbuh dalam gairah pendidikan tauhid dan ilmu kepemimpinan, tanpa menyadari bahwa takdirnya sedang diincar oleh dua kekuatan raksasa yang bersiap bertarung hingga akhir.
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (38): Sidang Pengkhianatan di Malkata
(Bersambung)
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin