Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (43): Kesehatan Akhenaten Memburuk

Lalu Mohammad Zaenudin • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 17:23 WIB

 

Pahatan wajah Fir
Pahatan wajah Fir'aun Akhenaten

 

Angin dingin yang bertiup dari celah tebing batu kapur Amarna malam itu terasa amat menusuk. Di dalam kamar peraduan utama Istana Akhetaten, bau asap minyak zaitun membaur kental dengan aroma ramuan herbal yang pekat. Di atas pembaringan batu berlapis kain linen halus, Firaun Akhenaten terbaring lemah. Tubuhnya yang tirus kini kian kurus, napasnya memburu dan terengah-engah, sementara dahinya basah oleh peluh dingin yang membakar.

Beban duka atas kehilangan putri-putrinya di masa lalu, ditambah kerja keras tanpa henti untuk mewujudkan visi monoteisme murni, akhirnya meremukkan fisik sang akselerator tauhid. Akhenaten tidak lagi mampu berdiri tegap untuk memimpin ritual puji-pujian di pelataran Kuil Per-Aten.

Ratu Nefertiti duduk di tepi peraduan, menggenggam jemari suaminya yang kian dingin. Di sampingnya, Smenkhkare dan Wazir Agung Ay berdiri dalam kesunyian yang sarat akan keprihatinan.

"Aten masih berada di atas kita, Nefertiti..." bisik Akhenaten dengan suara parau yang amat lemah, sepasang matanya yang cekung menatap sayu ke arah langit malam yang menerobos dari ventilasi atap. "Namun fisiku... fisiku tidak lagi sanggup menopang beratnya mahkota ini. Smenkhkare... mendekatlah, Putraku."

Smenkhkare berlutut di samping peraduan, memegang tangan sang Firaun dengan penuh penghormatan.

"Kota ini... dan tatanan Ma'at yang murni ini... kini berada di atas bahumu," ujar Akhenaten, matanya memancarkan keteguhan spiritual yang tak padam oleh penyakit. "Jangan biarkan kegelapan Thebes kembali menyelimuti tanah yang telah disucikan ini."

Memburuknya kesehatan Akhenaten secara drastis seketika melempar seluruh tanggung jawab eksekutif kekaisaran ke atas pundak Smenkhkare. Ini adalah ujian nyata pertama bagi sang Co-Regent muda untuk membuktikan bahwa ia bukan sekadar pangeran pajangan, melainkan seorang pemimpin yang sanggup berdiri tegar di tengah gelombang krisis.

Kabar tentang Firaun yang terbaring kritis menyebar cepat laksana api menyambar rumput kering di sepanjang Sungai Nil. Di kota tua Thebes, Merire yang menerima laporan mata-mata tidak membuang waktu sekejap pun.

 

Baca Juga: Duet Maut Dybala & Malen Mengamuk, Fiorentina Dibantai Roma Meski De Gea Jatuh Bangun

Merire segera memobilisasi jaringan pendeta dan provokator lokal di kota-kota provinsi luar Amarna. Tanpa melakukan tindakan militer yang bisa memicu amarah Jenderal Horemheb, Merire menyebarkan desas-desus halus namun mematikan: bahwa sakitnya Firaun Akhenaten adalah tanda bahwasanya "piringan matahari telah meninggalkan Amarna", dan tanpa kehadiran Firaun di kuil, berkah Sungai Nil akan terhenti.

Gejolak rasa cemas mulai merayap di kalangan para gubernur provinsi (Nomarch) di wilayah Tengah dan Selatan Mesir. Beberapa gubernur mulai menunda pengiriman pendaftaran pajak tahunan mereka ke Amarna, menguji apakah Smenkhkare memiliki taring untuk menertibkan mereka.

Menghadapi ancaman pembangkangan sipil ini, Smenkhkare menunjukkan dinginnya kalkulasi kepemimpinannya. Tanpa menunjukkan rasa panik, ia bertindak cepat bersama Wazir Ay.

Smenkhkare menerbitkan Maklumat Pemungutan Pajak Darurat atas nama Firaun dan Ratu Agung, lalu mengutus pasukan pengawal elit istana untuk mendampingi para juru tulis kerajaan melakukan inspeksi mendadak ke markas-markas gubernur yang membangkang. Di saat yang sama, Smenkhkare memimpin sendiri ritual persembahan di Kuil Agung Per-Aten, menggantikan peran Akhenaten di hadapan ribuan rakyat Amarna untuk memperlihatkan bahwa takhta kekaisaran tetap berdiri kokoh dan tak tergoyahkan.

"Smenkhkare mengatasi ujian pertamanya dengan sangat baik, Gusti Ratu," bisik Wazir Ay saat mengamati sang pangeran muda memimpin sidang dewan menteri. "Para gubernur provinsi yang mencoba membangkang telah kembali tunduk dan menyetorkan pajak mereka."

Nefertiti mengangguk pelan, menatap Smenkhkare dengan rasa bangga namun berselimut duka yang mendalam. Sang Ratu Agung menyadari bahwa meski Smenkhkare berhasil menjaga stabilitas pemerintahan, waktu bagi Firaun Akhenaten di atas bumi ini kian menipis—dan fajar kepemimpinan baru yang penuh guncangan bersiap untuk meletus.

(Bersambung) 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
Sumber : Beragam Sumber
Kesehatan Firaun Akhenaten Memburuk Kepemimpinan Co-Regent Smenkhkare Maklumat Pajak Darurat Amarna