Sinar fajar keemasan menerobos lembut melalui sela-sela jendela tanpa atap Istana Utama Akhetaten, menyiram permukaan pualam peraduan dengan pendar cahaya yang hangat. Di luar, suara kepakan sayap burung-burung rawa dan gita puja pagi dari Kuil Agung Per-Aten bergaung jernih, memecah heningnya Kota Cahaya. Namun, di dalam peraduan suci, waktu seolah berhenti berputar.
Firaun Akhenaten berbaring dalam kedamaian yang amat tenang. Napasnya yang parau kini melambat, halus laksana hembusan angin gurun di pagi hari. Di sekeliling peraduannya, berdiri sosok-sosok yang paling dicintai dan dipercayainya: Ratu Nefertiti yang menggenggam jemari dinginnya, Smenkhkare, Wazir Agung Ay, serta Pangeran Muda Tutankhaten dan Putri Ankhesenpaaten.
Akhenaten perlahan membuka matanya. Sepasang mata tirus yang dahulu membakar semangat revolusi tauhid di seluruh Mesir itu kini memancarkan kejernihan spiritual yang mutlak. Sang Firaun menatap Nefertiti dengan ukiran senyum paling tulus.
"Waktuku telah tuntas di atas bumi ini, Nefertiti..." bisik Akhenaten, suaranya halus namun terdengar jernih oleh setiap jiwa di ruangan itu. "Cahaya itu... cahaya Aten tidak pernah memintaku untuk hidup selamanya dalam tubuh daging ini. Dia hanya memintaku menyalakan apinya di atas tanah yang murni ini."
Akhenaten memalingkan wajahnya ke arah Smenkhkare dan Pangeran Tutankhaten yang menunduk dalam duka yang mendalam. Dengan sisa kekuatan terakhirnya, sang Firaun mengangkat tangannya, meletakkannya di atas dada kedua pangeran muda itu.
"Dengarlah Wasiat Suci ini..." tegas Akhenaten, mengunci sumpah terakhir dalam sejarah Amarna. "Jangan pernah biarkan kegelapan Amun memadamkan tauhid yang telah mekar di kota ini. Bawa rakyat ini dalam kebenaran, cintai Ma'at di atas harta dan takhta, dan lindungi tanah perawan ini dari kebohongan berhala-berhala masa lalu... Janjilah padaku!"
"Hamba bersumpah atas nama darah dan jiwa hamba, Yang Mulia!" janji Smenkhkare dengan derai air mata dan nada suara yang bulat.
Pangeran Tutankhaten kecil menggenggam erat jemari ayahnya. "Aku akan menjaga cahaya Aten, Ayah... Aku janji."
Baca Juga: NTB Ekspor Anyaman Ketak ke Malaysia, Jerman, dan Belgia
Akhenaten mengangguk pelan, menyunggingkan senyum terakhirnya saat piringan matahari terbit sempurna di ufuk timur, menyiram seluruh tubuhnya dengan sinar keemasan. Dengan satu helaan napas panjang yang damai, sang Firaun yang bertauhid—pembaharu teragung dalam sejarah peradaban Mesir Kuno—secara resmi mengembuskan napas terakhirnya.
Derai air mata pecah di dalam peraduan. Nefertiti mencium dahi suaminya dengan keharuan yang tak terlukiskan, sementara Lonceng Suci Amarna dibunyikan seratus kali, mengumumkan duka nasional ke seluruh penjuru kekaisaran.
Kabar wafatnya Akhenaten menjangkau Kuil Karnak di Thebes dalam hitungan hari.
Di dalam ruangan gelapnya, Pendeta Tinggi Merire berdiri di hadapan para pengikutnya. Sepasang matanya berkilat oleh kegembiraan yang amat pekat, memegang piala emas persembahan dengan jemari bergetar oleh gairah kemenangan politik.
"Raja gila itu telah mati!" seru Merire dengan bisikan kejam yang bergema di dinding-dinding batu Karnak. "Tembok utama Amarna telah runtuh! Smenkhkare hanyalah budak muda dan Nefertiti adalah janda yang berduka. Ini adalah saat di mana kita akan merobohkan Kota Cahaya itu sampai ke batu Talatat terakhirnya!"
Wafatnya Akhenaten menandai berakhirnya sebuah era revolusi tauhid yang berani, sekaligus membuka gerbang Jilid III dari saga kekuasaan ini: pertempuran hidup-mati mempertahankan warisan Amarna di bawah kepemimpinan Smenkhkare dan keteguhan Ratu Nefertiti.
(Bersambung)
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Beragam Sumber