Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (48): Racun Halus di Perjamuan Istana Akhetaten

Lalu Mohammad Zaenudin • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 07:39 WIB
Amarna
Amarna

 

 

 

Gema musik harpa dan gita puja kegembiraan melimpah dari pelataran Istana Utama Akhetaten hingga ke tepi Sungai Nil. Ratusan meja pualam dipenuhi anggur unggulan dari Oase Barat, buah ara segar, serta panggangan daging unggas yang diolesi madu murni. Seluruh elite kekaisaran berkumpul merayakan pertunangan suci Pangeran Tutankhaten dan Putri Ankhesenpaaten. Di atas panggung utama, Firaun Smenkhkare duduk berdampingan dengan Ratu Nefertiti, menerima penghormatan dari para delegasi provinsi.

Di antara deretan pejabat yang mengantre memberikan selamat, Pendeta Tinggi Merire melangkah anggun. Ia mengenakan jubah linen putih terbaiknya, melambaikan tangan dengan kehangatan yang tampak sangat meyakinkan. Di belakangnya, dua pelayan kuil membawa peti kayu cedar berisi piala anggur emas yang diukir indah dengan motif teratai.

"Atas nama para pendeta dan rakyat Thebes," ujar Merire seraya berlutut penuh khidmat di hadapan takhta Smenkhkare dan Nefertiti, "hamba mempersembahkan piala emas ini sebagai simbol kepatuhan mutlak Kuil Karnak pada takhta murni Amarna. Semoga piringan Aten memberkahi Firaun Smenkhkare dan Ratu Agung Nefertiti dengan kejayaan abadi."

Smenkhkare menatap piala emas itu, lalu melirik Nefertiti. Sang Ratu Agung menyunggingkan senyum tipis, menganggukkan kepala memberi isyarat formal perizinan.

"Kami menerima persembahanmu, Merire," balas Smenkhkare penuh wibawa. "Biarkan piala ini menjadi saksi bahwa perselisihan masa lalu telah dikubur di bawah sinar matahari."

Merire tersenyum, membungkuk dalam-dalam sebelum mundur ke barisan tamu. Namun, di balik senyum dan persembahan kemewahan itu, sebuah skenario mematikan yang sangat halus baru saja mengeksekusi fase pertamanya.

Merire tidak meracuni anggur di dalam cawan perunggu pesta—taktik murah yang akan dengan mudah terdeteksi oleh juru cicip istana. Sebagai gantinya, ia memanfaatkan sel rahasia pelayan istana yang telah disuap puluhan pundi emas untuk mengoleskan ekstrak akar hemlock dan racun ular air berkonsentrasi rendah pada lapisan lilin yang melapisi bagian dalam piala-piala perjamuan khusus para pejabat tinggi istana. Racun mikro ini tidak membunuh seketika, melainkan mengendap perlahan di dalam organ tubuh, merusak saraf dan paru-paru dalam hitungan bulan tanpa meninggalkan jejak serbuk atau bau di dalam minuman.

Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (47): Pertunangan Suci Pangeran Tutankhaten

 

Saat malam kian larut dan perjamuan mencapai puncaknya, Smenkhkare mengangkat cawan emas persembahan itu tinggi-tinggi, meneguk anggur merahnya di hadapan sorak-sorai ribuan tamu. Di sudut remang balairung, Merire menyaksikan tegukan itu dengan kilatan mata yang penuh kebencian pekat.

"Teguklah kejayaanmu, pangeran muda..." bisik Merire dalam hatinya seraya menyunyah buah anggur. "Dalam kurun beberapa bulan, tubuhmu akan mengering dari dalam, dan tidak ada satu pun tabib di Amarna yang sanggup menyelamatkanmu dari racun tanpa nama ini."

Di sisi lain balairung, Wazir Agung Ay yang berdiri mengamati situasi meratapi keanehan gerak-gerik para pelayan Karnak. Sepasang matanya yang berpengalaman menangkap kegelisahan kecil pada juru tuang anggur yang melayani meja Co-Regent. Ay segera melangkah mendekati komandan pengawal istana, berbisik lirih di samping telinganya.

"Amankan seluruh cawan perjamuan malam ini begitu perjamuan usai," perintah Ay dengan nada amat dingin. "Jangan biarkan ada satu pun piala emas yang dicuci atau dibuang sebelum tabib istana memeriksa sisa cairannya."

Bayang-bayang pengkhianatan yang sangat halus kini telah menyusup masuk ke dalam darah sang Firaun Muda. Pesta kemewahan yang seharusnya mengunci masa depan Kota Cahaya kini menjadi awal dari hitungan mundur tragis bagi takhta Smenkhkare.

(Bersambung) 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
Sumber : Beragam Sumber
Konspirasi Racun Firaun Smenkhkare Pendeta Tinggi Merire Wazir Ay Fiksi Sejarah Mesir Kuno Lombok Post