Bulan-bulan berlalu sejak pesta pertunangan suci Pangeran Tutankhaten dan Putri Ankhesenpaaten dirayakan dengan kemegahan tanpa tanding. Namun, di balik kegembiraan rakyat yang masih hangat, kabut kecemasan baru mulai merayap pelan di lorong-lorong batu Istana Utama Akhetaten. Firaun Muda Smenkhkare—yang semula dikenal berfisik tegap dan berenergi meledak-ledak—mulai menunjukkan gejala keretakan fisik yang amat misterius.
Setiap kali fajar menyingsing, sang Firaun kerap mengalami batuk darah hebat yang menguras tenaganya. Wajah tampannya kian pucat, jemari tangannya gemetar saat memegang pena kuas, dan napasnya memburu seolah dada sang penguasa dihimpit oleh batu kapur gersang.
"Ini bukan demam biasa, Gusti Ratu," bisik Tabib Utama Istana di hadapan Ratu Nefertiti di dalam kamar tertutup. "Tidak ada tanda-tanda penyakit wabah, tidak pula ada infeksi luka. Organ dalam Yang Mulia Firaun meredup perlahan... seolah ada elemen asing yang mengikis darahnya dari dalam."
Nefertiti berdiri mematung di samping peraduan Smenkhkare yang sedang tertidur lelap akibat efek ramuan penenang. Sepasang mata gelap sang Ratu Agung menyipit, memancarkan amarah dingin yang membakar. Ia teringat kembali pada malam perjamuan besar beberapa bulan lalu—pada senyum beracun Pendeta Tinggi Merire saat menyerahkan piala emas persembahan dari Thebes.
"Merire..." desis Nefertiti tajam. "Ular itu tidak pernah bertarung dengan pedang jika ia bisa membunuh dengan cawan."
Sementara Nefertiti menjaga ketat keselamatan Smenkhkare dan membatasi akses keluar-masuk kamar peraduan, Wazir Agung Ay secara rahasia mengeksekusi Penyelidikan Siluman di lingkungan pelayan istana.
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (48): Racun Halus di Perjamuan Istana Akhetaten
Berbekal perintah amankan cawan yang diterbitkannya sejak malam pesta, Wazir Ay mengumpulkan seluruh piala emas hadiah dari Kuil Karnak dan membawanya ke laboratorium rahasia tabib di bagian bawah tanah istana. Dengan bantuan jelaga minyak khusus dan pengujian reaksi kimia pada sisa lapisan lilin cawan, para tabib menemukan endapan mikroskopis racun akar hemlock dan bisa ular air yang telah mengering.
"Cawan-cawan ini dilapisi racun mengendap, Wazir Ay," papar Tabib Utama dengan tangan gemetar. "Si siapa pun yang meneguk anggur dari piala ini secara berulang tidak akan tewas seketika, namun jiwanya akan terenggut dalam kurun enam hingga delapan bulan."
Wazir Ay mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Tanpa membuang waktu sekejap pun, sang Wazir veteran memimpin satu peleton pengawal elit Nubia untuk menggerebek kediaman juru tuang anggur istana yang melayani meja Co-Regent pada malam perjamuan.
Namun, ketika pintu kayu kediaman sang juru tuang didobrak, mereka hanya menemukan jasad sang juru tuang tergeletak kaku di lantai dengan leher membiru—dibunuh secara brutal oleh pembunuh bayaran Karnak untuk menghilangkan jejak pembocoran informasi.
"Mereka membungkam saksi kunci kita!" teriak komandan pengawal Nubia geram.
Wazir Ay berlutut, memeriksa kantong kain di dalam jubah sang juru tuang yang tewas. Dari dalam lipatan kain, sang Wazir menemukan kepingan emas murni yang mengilap—emas berstempel cap domba jantan rahasia milik kasta pendeta Kuil Karnak.
"Bukti ini sudah lebih dari cukup," ujar Wazir Ay dengan nada suara yang membekukan udara. "Merire telah meracuni Firaun kita. Kita harus memberitahu Ratu Nefertiti dan menyiapkan barisan perang sebelum Thebes menyadari bahwa kejahatan mereka telah terbongkar!"
Keretakan fisik Sang Firaun Muda kini bukan lagi sekadar rahasia medis, melainkan telah bereskalasi menjadi genderang perang konfrontasi terakhir antara Kota Cahaya Amarna dan teokrasi berdarah Kuil Karnak.
(Bersambung)
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Beragam Sumber