Asap dupa mur dan minyak kayu cedar masih membubung tipis dari pelataran Kuil Per-Aten, membawa doa-doa terakhir bagi mendiang Firaun Smenkhkare. Di dalam Aula Dewan Tinggi Akhetaten, keheningan mencekam menyelimuti para pejabat kekaisaran. Di atas takhta pualam berlapis emas, Firaun Bocah Tutankhaten duduk tegak di samping Putri Ankhesenpaaten. Meski usianya baru tujuh tahun, tatapan matanya polos namun menyimpun keberanian murni sang ayah.
Di sisi kanan takhta, Ratu Nefertiti berdiri laksana dewi pelindung. Tanpa membuang waktu dalam meratapi duka, sang Ratu Agung mengibaskan tangannya, mengesahkan pembentukan Dewan Pemangku Takhta (Regency Council) untuk menguji ketahanan Kota Cahaya menghadapi krisis pasca-wafatnya Smenkhkare.
"Negeri ini tidak boleh tergoyahkan oleh tiupan angin dari Thebes," tegas Nefertiti, suaranya dingin dan berwibawa. "Wazir Ay akan memegang kendali penuh atas birokrasi, hukum, dan administrasi sipil. Seluruh edik pembebasan pajak dan pasokan logistik dari Nubia berada di bawah stempel utamanya."
Wazir Agung Ay melangkah maju, membungkuk penuh khidmat. "Hamba menerima amanah ini, Gusti Ratu. Kas negara dan jalur air Delta berada dalam pengawasan penuh juru tulis kerajaan."
Namun, fondasi pertahanan sejati Kota Cahaya malam itu terletak di tangan sosok berpostur tinggi tegap dengan zirah perunggu yang berkilat tersiram cahaya obor: Jenderal Horemheb.
Horemheb melangkah ke tengah aula, menggelar peta strategi militer kekaisaran di atas meja batu. Wajah keras sang jenderal veteran tidak memancarkan rasa ragu sedikit pun.
"Pendeta Tinggi Merire bertaruh bahwa wafatnya Smenkhkare akan membuat militer kehilangan arah," ujar Horemheb, suaranya menggelegar bagaikan genderang perang. "Maka hamba melancarkan Strategi Pertahanan Tiga Lapis."
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (50): Pengakuan Terakhir Smenkhkare
Horemheb menunjuk titik-titik koordinat strategis pada peta:
Lapis Pertama (Garis Utara): Tiga legiun kereta perang ditempatkan di benteng Gaza dan Sinai untuk memastikan pasukan Hittite dan pemberontak Aziru tidak memanfaatkan celah suksesi di ibu kota.
Lapis Kedua (Jalur Sungai Nil): Pelabuhan Asyut dan perairan perbatasan Memphis dijaga ketat oleh armada galai tempur Nubia. Setiap kapal dagang dari Thebes yang memasuki wilayah Amarna wajib digeledah total untuk mencegah masuknya racun, agen rahasia, atau bahan peledak.
Lapis Ketiga (Keamanan Dalam Kota): Kompleks Istana Akhetaten dan kediaman Firaun Bocah dipagari secara eksklusif oleh Pengawal Elit Kerajaan yang mengikrar sumpah setia langsung pada Nefertiti.
"Jika Merire berani menggerakkan satu prajurit pun dari Thebes menuju utara," ancam Horemheb seraya menghantamkan belatinya ke atas meja batu, "hamba sendiri yang akan memimpin legiun perang untuk meratakan Kuil Karnak hingga ke dasar tanah!"
Konsolidasi kilat Dewan Pemangku Takhta dan barikade strategi militer Horemheb berhasil membentengi Akhetaten dari ancaman kudeta mendadak. Legitimasi Tutankhaten terkunci rapat, sementara jalur nadi ekonomi dan keamanan tetap utuh di tangan para veteran berpengalaman.
Di kota tua Thebes, Merire yang menyadari bahwa benteng pertahanan Amarna kian menebal di bawah cengkeraman Horemheb dan Ay, terpaksa menahan diri dari serangan fisik.
Di dalam keremangan Kuil Amun-Ra, Merire mengepalkan tangannya seraya menatap patung ular kobra. "Mereka telah memagari anak itu dengan besi dan emas... Tapi besi tidak bisa menahan bisikan rahasia, dan emas tidak bisa membeli ingatan rakyat."
Merire menyunggingkan senyum licik. "Jika aku tidak bisa menembus dinding pertahanan Horemheb, maka aku akan meracuni pikiran rakyat Mesir dari luar—menanamkan ajaran bahwa Firaun Bocah di Amarna adalah kutukan bagi kelangsungan negeri ini!"
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (49): Keretakan Fisik Smenkhkare
Perang saraf tingkat tinggi resmi dimulai. Kota Cahaya Akhetaten kini siap menghadapi ujian terbesar di bawah bayang-bayang perlindungan Dewan Pemangku Takhta dan pedang baja Jenderal Horemheb.
(Bersambung).
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Beragam Sumber