Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (52): Propaganda Hitam Karnak

Lalu Mohammad Zaenudin • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 16:19 WIB
Tutankhamun
Tutankhamun

 

 

Wafatnya Smenkhkare dan naik takhtanya Tutankhaten yang baru berusia tujuh tahun menjadi celah yang telah lama dinantikan oleh Pendeta Tinggi Merire. Menyadari bahwa jalur militer telah dibentengi rapat oleh Jenderal Horemheb dan jalur ekonomi diawasi ketat oleh Wazir Ay, Merire melepaskan senjata terkelamnya dari balik dinding Kuil Karnak: Propaganda Hitam dan Perang Psikologis.

Dalam hitungan hari, ratusan utusan gelap dan pendeta penyamar disebar ke seluruh pelosok Mesir, dari kota-kota pelabuhan Delta hingga perkampungan petani di Selatan. Mereka menyusup ke pasar-pasar rakyat, meracuni pikiran penduduk dengan desas-desus jahat dan teologi ketakutan.

"Smenkhkare tewas bukan karena demam, melainkan dimurkai oleh para dewa leluhur!" demikian narasi beracun yang ditiupkan para provokator Karnak di kedai-kedai Thebes dan Memphis. "Kini Kota Cahaya dipimpin oleh seorang anak kecil yang tidak tahu cara memanggil hujan atau menerbitkan matahari. Jika kita tetap membiarkan Firaun bocah itu bertahta di Amarna, tanah Mesir akan dikutuk oleh kegelapan dan panen gandum kita akan berubah menjadi debu!"

Propaganda hitam ini bergerak laksana wabah tak kasat mata. Ketakutan rakyat jelata mulai menyulut kerusuhan-kerusuhan kecil di luar Amarna. Di beberapa distrik provinsi, massa yang terhasut membakar gudang pajak dan menolak menghormati utusan kerajaan.

Krisis ini meletus tepat di hadapan Firaun Bocah Tutankhaten saat memimpin sidang dewan menteri pertamanya di Balai Agung Akhetaten. Utusan dari provinsi Asyut berlutut dengan wajah pucat, melaporkan bahwa rakyat di wilayahnya menolak menyetorkan pajak pangan dan menuntut petunjuk langsung dari Firaun untuk membuktikan bahwa Aten tidak mengutuk tanah mereka.

Di atas takhta pualam yang terlalu besar untuk tubuh mungilnya, Tutankhaten meremas pinggiran kursi berukir emas. Di sampingnya, Ratu Nefertiti menatap sang putra dengan pandangan menenangkan, sementara Wazir Ay dan Horemheb bersiaga jika sang Firaun muda memperlihatkan kepanikan.

Namun, Tutankhaten yang telah digembleng dalam disiplin istana sejak kecil tidak menangis atau gemetar. Pangeran bocah itu menarik napas panjang, lalu menegakkan punggungnya dengan wibawa murni seorang penerus Akhenaten.

"Gusti Ratu, Wazir Ay..." suara Tutankhaten bergaung jernih menembus keheningan balairung. "Ayahku mengajarkan bahwa Aten tidak memberikan berkah melalui ketakutan, melainkan melalui kerja keras dan kebenaran Ma'at."

Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (51): Konsolidasi Pemangku Takhta dan Strategi Pertahanan

 

Tutankhaten berdiri dari takhtanya, menatap lurus ke arah utusan Asyut yang terpana.

"Kami tidak akan mengirimkan pasukan pemukul untuk membantai rakyat kami yang ketakutan di Asyut," titah Tutankhaten dengan keteguhan yang melampaui usianya. "Bawa gandum dari gudang cadangan istana Amarna, bagikan secara gratis kepada rakyat Asyut yang kelaparan! Biarkan mereka melihat sendiri bahwa tangan Firaun tidak membawa kutukan, melainkan membawa makanan dan perlindungan!"

Nefertiti menyunggingkan senyum bangga yang amat dalam, sementara Wazir Ay membungkuk penuh penghormatan atas kebijaksanaan tak terduga dari sang Firaun bocah.

Pengiriman bantuan pangan darurat dari kas istana Amarna seketika mematahkan propaganda hitam Merire di Asyut. Rakyat yang semula terhasut oleh isu kutukan justru berbalik mengagungkan kedermawanan Firaun Muda Tutankhaten. Ujian pertama sang raja bocah berhasil dilalui dengan kemenangan moral yang gemilang, membuktikan bahwa jiwa Kota Cahaya tetap menyala terang di dalam dadanya.

Ketika berita kegagalan propaganda hitamnya terdengar di Kuil Karnak, Merire menggertakkan giginya dalam kegelapan. "Anak itu memiliki kecerdikan Nefertiti... Tapi permainan ini belum berakhir. Jika rakyat tidak bisa dipalingkan dengan propaganda, maka kita akan buat Amarna berdarah dari dalam!"

(Bersambung). 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
Sumber : Beragam Sumber
Serial Amarna Lombok Post Propaganda Hitam Kuil Karnak Kebijaksanaan Firaun Bocah Tutankhaten