Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (53): Penyusupan ke Kota Cahaya

Lalu Mohammad Zaenudin • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 16:25 WIB
Sennedjem
Sennedjem

 

 

 

Kegagalan propaganda isu kutukan di Asyut memaksa Pendeta Tinggi Merire mengubah taktik secara drastis. Jika kekuatan narasi dan gertakan dari luar tak mampu menumbangkan Firaun Muda Tutankhaten, maka Akhetaten harus digerogoti dari balik dindingnya sendiri. Merire meluncurkan operasi paling senyap dalam sejarah Kuil Karnak: Penyusupan Berdarah dan Konspirasi Dalam Istana.

Melalui jalur perdagangan buah-buahan dan kurir barang kemewahan yang lalu lalang di pelabuhan Amarna, Merire menyusupkan belasan agen rahasia yang terlatih dalam seni pembunuhan dan penyuapan. Senjata utama mereka bukanlah belati atau racun cawan, melainkan kepingan-kepingan emas murni berstempel kuno untuk meracuni kesetiaan para pejabat kelas menengah istana—para juru tulis, pengawas pelayan, dan penjaga pintu gerbang dalam.

Di dalam Istana Utama Akhetaten, racun konspirasi mulai merayap tanpa suara. Salah satu pengawas pelayan istana senior, seorang pria bernama Sennedjem yang terlilit utang judi dan ambisi pribadi, berhasil ditaklukkan oleh kepingan emas Karnak. Sennedjem diberi tugas vital: menyalin peta pergerakan harian Firaun Bocah Tutankhaten, memetakan jam pergantian penjaga malam, serta melonggarkan pengawasan di koridor sayap barat yang menghubungkan kediaman pangeran dengan taman belakang.

Malam itu, hening yang pekat menutupi Kota Cahaya. Di dalam kamar peraduannya, Tutankhaten kecil tertidur pulas di bawah pengawasan Putri Ankhesenpaaten. Namun, di koridor luar, Sennedjem secara sengaja memindahkan dua pengawal Nubia ke pos pelabuhan dengan alasan tugas darurat palsu, meninggalkan lorong sayap barat tanpa perlindungan.

Dua penyusup berjubahkan kain hitam merayap di balik pilar-pilar batu Talatat, memegang belati beracun yang mengilap disiram cahaya bulan. Mereka melangkah tanpa suara menuju pintu peraduan sang Firaun bocah.

Namun, Merire meremehkan dinginnya sistem pengawasan yang dibangun oleh Wazir Agung Ay dan Jenderal Horemheb.

Sebelum jemari sang penyusup menyentuh gerendel pintu peraduan, bayangan hitam yang jauh lebih cekatan melompat dari atas langit-langit pilar. Pengawal elit siluman yang dibentuk khusus oleh Horemheb—Kharu—menyergap kedua pembunuh bayaran itu dalam penyergapan mutlak tanpa suara. Pertarungan singkat dan berdarah terjadi di balik tirai koridor; kedua penyusup Karnak tewas seketika dengan tenggorokan tertembus pisau lempar perunggu.

Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (52): Propaganda Hitam Karnak

 

Hanya dalam hitungan menit, Wazir Ay dan Horemheb tiba di lokasi bersama peleton pengawal bersenjata lengkap. Di sudut koridor, Sennedjem yang gemetar hebat mencoba melarikan diri, namun lengannya langsung dipatahkan oleh cengkeraman besi Horemheb.

Dari dalam kantong jubah Sennedjem, Wazir Ay menarik keluar gulungan papirus berisi peta rahasia jam tidur Firaun dan kantong emas berstempel Kuil Karnak.

Ratu Nefertiti melangkah masuk ke koridor, menatap Sennedjem dengan pandangan matanya yang sanggup membekukan api perapian.

"Kalian mengira kami tertidur hanya karena seorang anak kecil yang duduk di atas takhta?" desis Nefertiti, suaranya dingin menembus tulang. "Setiap sudut Amarna adalah mata dan telingaku!"

"Ampunkan hamba, Gusti Ratu! Karnak menjanjikan tanah dan gelar—" ratap Sennedjem sebelum Horemheb memberi isyarat kepada pengawal untuk menghentikan mulut sang pengkhianat secara permanen.

Penyusupan ke Kota Cahaya berhasil dipatahkan sebelum menyentuh helai rambut Firaun Bocah Tutankhaten. Namun, peristiwa berdarah di koridor sayap barat ini menyadarkan Nefertiti dan dewan pemangku takhta bahwa Amarna tidak lagi aman selama sel-sel rahasia Merire masih berkeliaran bebas di dalam ibu kota. Pembersihan internal secara besar-besaran bersiap untuk digulirkan.

(Bersambung) . 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
Sumber : Beragam Sumber
Serial Amarna Lombok Post Konspirasi Istana Akhetaten Penyusupan Agen Kuil Karnak