Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (54): Pembersihan Besar-Besaran di Amarna

Lalu Mohammad Zaenudin • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 16:34 WIB
Nefertiti
Nefertiti

 

 

 

Penangkapan dan eksekusi singkat terhadap Sennedjem serta penyergapan penyusup Karnak di koridor sayap barat menjadi alarm keras bagi Dewan Pemangku Takhta. Ratu Nefertiti menyadari bahwa pertahanan fisik di pintu gerbang Amarna sama sekali tidak berguna jika dinding-dinding istana masih menyimpan sel penanam racun dan mata-mata yang bisa dibeli dengan kepingan emas Thebes.

Sebelum fajar merekah di atas langit Akhetaten, Ratu Nefertiti memimpin rapat darurat tertutup bersama Wazir Agung Ay dan Jenderal Horemheb di Ruang Peta Istana Utama.

"Kita tidak boleh lagi menunggu musuh merayap ke peraduan Firaun Bocah," tegas Nefertiti, sepasang matanya menyala dalam amarah dingin. "Sapu bersih seluruh lini birokrasi dan pelayan istana. Siapa pun yang terhubung dengan aliran emas Thebes atau Kuil Karnak harus dicabut sampai ke akar-akarnya hari ini juga!"

Jenderal Horemheb segera meluncurkan Operasi Kontra-Intelijen:

alih-alih melakukan penangkapan terbuka yang bisa memicu kegelisahan massa, Horemheb membagi pasukan elit Kharu ke dalam belasan unit senyap. Dalam kurun waktu 24 jam, pembersihan besar-besaran digulirkan secara presisi di seluruh penjuru Akhetaten.

Setiap juru tulis pelabuhan, pengawas gudang gandum, hingga juru masak istana diperiksa secara menyeluruh. Pembukuan kekayaan pribadi para pejabat kelas menengah diaudit secara ketat oleh tim pengawas Wazir Ay. Barang siapa yang kedapatan menyimpan simpanan emas berstempel domba jantan Karnak tanpa asal-usul yang jelas langsung diseret ke dalam penjara bawah tanah.

Lebih dari tiga puluh pejabat dan pelayan istana yang terbukti menjadi sel tidur Merire ditangkap tanpa kegaduhan. Aset-aset mereka disita atas nama kas kerajaan, sementara jaringan komunikasi kurir gelap yang menghubungkan Amarna dan Thebes berhasil diputus total.

Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (53): Penyusupan ke Kota Cahaya

 

 

Untuk melengkapi pembersihan internal tersebut, Wazir Ay menyusun Strategi Kontra-Propaganda:

informasi mengenai kegagalan pembunuhan terhadap Firaun Tutankhaten dan terbongkarnya pengkhianatan Sennedjem disebarkan secara terukur ke kota-kota provinsi. Penafsiran publik dibalik secara mutlak: bahwa Aten secara nyata melindungi sang Firaun bocah dari kelicikan pendeta Karnak yang penakut dan bersenjatakan belati beracun.

Di Kuil Karnak, Pendeta Tinggi Merire terduduk kaku ketika satu per satu burung merpati pembawa pesan dari agen Amarna kembali tanpa membawa laporan—atau tidak kembali sama sekali.

"Semua sel kita di Akhetaten... terputus total," bisik pengawas kuil dengan bibir gemetar. "Horemheb telah menutup seluruh pintu dan Nefertiti membantai semua kontak kita di dalam istana."

Merire meremas cawan perunggu di tangannya hingga bergetar. Kemenangan propaganda dan penyusupan rahasianya telah digulung habis oleh kecepatan manuver kontra-intelijen Kota Cahaya.

"Nefertiti mengisolasi Amarna dari tangan kita..." geram Merire dengan napas memburu. "Tapi dia tidak bisa mengisolasi Amarna dari ancaman yang jauh lebih besar di utara... Hittite!"

Pembersihan besar-besaran berhasil menyucikan kembali Amarna dari duri-duri pengkhianatan internal. Namun, saat tembok Kota Cahaya kembali kokoh dari dalam, badai konfrontasi baru kini bersiap meletus di perbatasan utara kekaisaran.

(Bersambung). 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
Sumber : Beragam Sumber
Serial Amarna Lombok Post Operasi Kontra Intelijen Horemheb Pembersihan Istana Nefertiti