Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Menikmati Matahari Terbit di Pantai Labuhan Haji

Administrator • Sabtu, 2 Maret 2019 | 12:53 WIB
DIPENUHI SAMPAH: Tampak hulu sungai yang menjadi muara pertemuan antara air tawar dan laut terlihat dipenuhi sampah di Labuhan Haji, belum lama ini.
DIPENUHI SAMPAH: Tampak hulu sungai yang menjadi muara pertemuan antara air tawar dan laut terlihat dipenuhi sampah di Labuhan Haji, belum lama ini.

Pantai Labuhan haji menjadi tempat favorit menikmati matahari terbit. Meski tak ditata, masyarakat selalu berbondong-bondong menghabiskan pagi di akhir pekannya di sana. Tapi sayang, kini pantai tersebut seperti tempat pembuangan sampah (TPS). Usaha pemuda dan pedagang membuat tempat berswafoto jadi sia-sia belaka.


Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur


============================

Jumat yang cerah. Langit pagi nampak bersih diterpa sinar matahari yang perlahan muncul dari ufuk timur. Pedagang kaki lima di sepanjang pantai sudah menyiapkan jualannya. Air dipanaskan. Tikar digelar. Areal sekitar tempat duduk yang disiapkan dibersihkan.


Sayangnya, usaha membersihkan areal jualan sia-sia belaka dengan pesisir yang nampak seperti TPS. Sampah tersebut melebar sekitar tiga meter ke arah pantai. Ombak kecil menggerakkannya secara perlahan. Tapi tak menyeretnya penuh. Bila dimasukkan ke dalam truk, mungkin akan nampung lima sampai sepuluh truk. Sebabnya di sepanjang pesisir pantai, sampah terlihat menumpuk.


Ramli, salah seorang pedagang di sana menerangkan jika ia tak bisa berbuat apa-apa untuk membersihkan sampah tersebut. "Sekarang kita bersihkan, besok pagi datang lagi. Karena ini semua datangnya dari sungai," terangnya.


Ia mungkin tak terlalu mengetahui penyebab pastinya. Tapi dugaannya tersebut masuk akal. Masyarakat yang entah di mana membuang sampah ke sungai, yang jadi korban adalah pantai. Belum lagi melihat persoalan yang ditimbulkan akibat pencemaran lingkungan laut. Terlalu banyak yang dikorbankan oleh buruknya kesadaran masyarakat kita.


Sementara itu, Kirom, salah seorang warga Selong yang pagi itu datang menikmati sunrise memilih tak lama. Ia menerangkan, keindahan matahari terbit sirna dengan adanya sampah tersebut. "Ini bukan menikmati sunrise, tapi mencium aroma TPS di pinggir pantai," keluhnya.


Ia pun bertanya-tanya, ke mana pemerintah dalam urusan sampah tersebut. Ia mengetahui, sampah itu tak hanya terlihat di pagi Jumat yang cerah. Melainkan hampir setiap hari. Sudah berbulan-bulan lamanya juga. "Ini dinas kebersihannya tidur ya," tanyanya saat dimintai berkomentar oleh koran ini.


Sejauh yang penulis koran ini perhatikan, kondisi sampah tersebut terletak tepat di pesisir sebelah kiri dermaga Labuhan Haji. Namun jangan salah, sampah juga menumpuk di bagian sebelah kanannya. Bisa dikatakan, sampah telah mencemari sepanjang pantai labuhan haji.


Sementara tak ada upaya menyaring sampah dari hulu yang mengucurkan air sungai ke laut. Sebab tanpa itu, percuma saja mengangkut sampah yang bejibun di pinggir pantai hari ini. Sebab keesokan harinya, sampah akan datang lagi di malam hari. "Lalu semua kita akan menyaksikannya bersama matahari terbit. Ini menyedihkan," kata Kirom.


Ia pun berseloroh, jika tahun ini Lotim mendapat gelar adipura, maka itu bukan gelar, melainkan penghinaan. "Karena yang tepat itu, Lotim mendapat piala adipura-pura. Pura-pura bersih, pura-pura bekerja," celotehnya. (*/r7)


Editor : Administrator
#Selong