Bila musim buah srikaya sudah tiba, biasanya warga akan mengingat sumbernya di Labuhan Lombok, Kecamatan Pringgabaya. Tapi apa jadinya jika pedagang dengan cerdas membawanya ke tengah kota? Apalagi dengan kondisi yang sama.
=======================
Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur
Di Lombok, srikaya ini dikenal dengan nama srikaya butik. Ada juga yang mengatakannya dengan srikaye tain bembek (kambing) karena bentuknya yang mirip kotoran kambing. Di Indonesia, buah ini dikenal dengan sebutan srikaya batu.
"Apapun namanya, yang penting beli dan nikmati saja pak," kata Inaq Atun, pedagang srikaya yang berlapak di depan masjid Attaqwa Pancor, Selong.
Apa yang dikatakan Atun ada benarnya. Apalah arti sebuah nama. Tapi yang terpenting kemudian adalah, bagaimana dia mendapatkan buah segar yang kesannya membuat pembeli seperti berbelanja jauh ke Pringgabaya.
Setiap hari, ia meluncur ke Dusun Saleh Sungkar, Desa Labuhan Lombok, Kecamatan Pringgabaya. Berangkat pukul 7 pagi, dan kembali sekitar pukul 2 siang. "Ini buahnya baru dipetik. Begitu panen di sana, kita langsung masukkan ke keranjang," terangnya.
Memang benar, srikaya ini besar-besar. Informasi mengenai buah itu baru dipetik juga terlihat pada beberapa buah yang masih menyisakan ranting dan daun. Ditambah dengan kondisinya yang tidak terlalu matang. Cukup menunggu sehari untuk benar-benar menikmati keempukan dan kemanisannya.
Per kilo, Inaq Atun menjualnya seharga Rp 15 ribu. Penulis koran ini tak tahu cara menawar. Sehingga perkiraan turunnya tidak bisa dipridiksi. Mungkin bisa sampai dua sampai tiga ribu rupiah. Tergantung berapa kilo anda beli. Tapi karena ukurannya yang besar-besar, dua atau tiga buah sudah cukup satu kilo.
Dalam sehari, inaq Atun membeli dari sumbernya sebanyak 15 keranjang. Jika dihitung kiloan, satu keranjang berisi sekitar 50 kg. Inaq Atun sendiri mengambil sekitar 6 keranjang setiap harinya. "Ya itu, sekitar 300 kilo," terangnya.
Inaq Atun sendiri sudah enam hari berjualan. Itu terhitung sejak musim panen srikaya. Dari jauh-jauh hari, ia sudah menghimpun informasi tersebut. Sebab ia tahu, srikaya itu akan sangat laris jika dijual di kota.
Berjualan dari sekitar pukul 2 siang, srikaya sebanyak enam keranjang bisa habis dalam hitungan jam. Kata Inaq Atun, terkadang habisnya magbrib, terkadang isya. "Tergantung rezeki," terangnya.
Tapi memang benar. Baru saja srikaya itu diturunkan dari mobil bak terbuka, srikaya itu diserbu pembeli. Rohman salah seorang warga dari Selong mengaku tertarik dengan ukuran srikaya yang besar. "Makannya puas. Satu atau dua kilo saja cukup," katanya.
Sampai musim srikaya berakhir, Inaq Atun dan beberapa teman pedagang lainnya dipastikan akan ke Saleh Sungkar setiap paginya. Siang sampai malam berjualan. Menghitung laba, lalu istirahat. Sebelum esok pagi tiba, dan para petani srikaya menunggu kedatangan mereka di Pringgabaya. Anda pilih mana, ke inaq Atun atau Pringgabaya? (*/r7)
Editor : Administrator