Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Nurdin, Penjelajah Lorong-lorong Pasar Umum di Lombok

Administrator • Sabtu, 4 Mei 2019 | 10:33 WIB
Photo
Photo

Dengan tubuh yang tak normal, Nurdin tak bisa berbuat banyak untuk mempertahankan hidupnya. Siapapun akan mafhum saat melihat lelaki sepertinya membuka telapak tangan. Namun siapa sangka, pergi meminta sumbangan tak semudah yang dibayangkan. Banyak risiko yang selama ini ia dapatkan. Dan dengan lapang dada, semua itu ia terima sebagai ujian.


Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur


===============================

Di Pasar Umum Pancor, kemarin (3/5) pagi, koran ini melihat Nurdin melangkah cepat. Ia mengenakan baju berwarna kuning dengan logo tim sepak bola terkaya di Eropa, Real Madrid. Nomor punggung 10. Kepalanya terbungkus kopiah kain berwarna ungu.


Di lorong-lorong yang memisahkan lapak pedagang satu dengan pedagang lainnya, ia terus berjalan. Langkahnya melambat bila pedagang atau pengunjung di pasar itu menyodorkan sumbangan. Di tangannya terdapat sebuah kantong plastik bening untuk mengisi logam. Sementara uang kertas ia rapikan di tangan.


Nurdin melangkah dengan satu kaki. Kaki sebelah kanannya tak bisa menopang tubuhnya yang juga tak mengalami pertumbuhan. Untuk melangkah cepat, ia dibantu tangan sebelah kiri. Tangan itu diberi semacam alas bergigi.  Tangan beralas itulah yang menggantikan fungsi kaki kanannya yang tak berfunsi dengan baik.


"Setiap hari saya merasakan nyeri hebat di tangan sebelah kiri," kata Nurdin menerangkan dampak dari tangan yang beralih fungsi menjadi kaki.


Lelaki yang kini berusia sekitar 40 tahun itu mengaku dari Desa Jenggik, Kecamatan Terara. Setiap hari ia naik ojek ke tujuan. Dari Jenggik ke Pancor, ongkosnya Rp 15 ribu. Bolak-balik jadi Rp 30 ribu.


Dengan biaya tranportasi sebesar itu, sehari-hari Nurdin harus mendapatkan setidaknya Rp 100 ribu. Katanya, di hari yang baik, ia bisa mendapatkan sampai Rp 150 ribu. Tak pernah terlalu banyak, sebab ia juga tak kuat meminta-minta seharian penuh. "Setelah pasar sepi saya pulang. Ini sebentar lagi balik," terangnya.


Nurdin patut dikatakan sebagai penjelajah pasar. Sebab ia telah menjelajahi puluhan pasar umum di Pulau Lombok. Mulai dari barat di pasar Cakra, sampai ke timur di pasar Pringgabaya. Paling sering, Paok Motong, Pancor, juga pasar-pasar umum yang tak terlalu jauh. "Kalau jauh seperti Pringgabaya, saya naik engkel (angkutan umum, red). Itu malah lebih murah. Sejauh apapun," jelasnya.


Sudah tiga bulan ini Nurdin berjalan sendiri. Sebelumnya, selama bertahun-tahu ia ditemani seorang kawan. Terkadang dari ojek yang mengantarnya. Tapi Nurdin mengatakan hal itu tidak ingin ia lakukan. Teman-teman seperti itu katanya seringkali menipu. Bahkan ada uang hasil meminta-minta yang sampai sekarang tak pernah diberikan kepadanya.


"Katanya mau disimpankan, tapi tidak pernah diberikan. Kalau pun diberikan, jauh lebih banyak yang dia ambil,"  jelasnya.


Kini Nurdin memilih seorang diri. Berjalan dari pasar ke pasar yang lain. Mencari satu atau dua ribu rupiah dari tangan-tangan dermawan. Menghidupi dirinya dan seorang saudara yang juga lumpuh di rumahnya. (r5/*)

Editor : Administrator
#Selong