Masjid Pancasila dibangun dan diresmikan oleh Presiden Kedua RI Soeharto. Karena cukup tua, atap masjid itu kini jadi sarang burung dan cicak. Karena itu, M Rahulli tak hanya bertugas mengumandangkan azan dan imam. Melainkan harus mengepel lantai yang tak suci lagi oleh kotoran cicak.
Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur
===============================
Pukul 11.30 Wita, M Rahulli atau yang akrab disapa Rahul sudah tiba di dalam masjid. Setelah salat sunat dua rakaat, ia menuju ke mimbar menyiapkan kaset ngaji untuk diputar. Juga pengeras suara dihidupkan.
Tapi di tengah perjalanan menuju ke mimbar, koran ini segera menahannya dan meminta kesediaan waktu wawancara. Ia tak langsung mengiyakan. Melainkan melihat waktu di jam dinding, kemudian mengatakan, masih ada waktu.
Kata Rahul, empat tahun sudah ia mengabdikan hidup menjadi penjaga rumah Allah. "Tugas saya azan, kadang jadi khatib, imam salat berjamaah, membersihkan halaman, dan ngepel lantai masjid ini," jelasnya.
Ia mengatakan, memastikan lantai masjid tetap suci jauh lebih penting dari pada sekadar menyetel suara orang ngaji. Tapi bukan berarti itu akan dikorbankan. Melainkan waktunya yang ia dahulukan.
Mengetahui rawannya kotoran cicak dan burung di masjid itu, ia pun datang harus lebih awal. Untuk apa? untuk mengepel lantai, dan terkadang menyapu karpet yang digerangi juga kotoran cicak tersebut. "Kotoran ini yang banyak. Sehari saja tidak kita bersihkan, sudah menumpuk," terangnya.
Rahul juga menceritakan awal mula ia menjadi penjaga masjid Pancasila. Ia mengatakan, saat menjadi mahasiswa di IAIH Hamzanwadi Pancor, ia selalu mengelilingi empat masjid ini dalam seminggu atau sebulan. Pertama Masjid Attaqwa Pancor, Masjid Agung Al Mujahidin, Masjid Sanggeng, dan Masjid Pancasila di Rakam.
Sehingga pada suatu sore ia melihat anak-anak mengaji. Ia turun membantu sang guru yang adalah temannya untuk mengajar. Lambat laun pengurus mempercayainya, dan jadilah ayah dua anak itu menjadi penjaga masjid sampai saat ini. Penjaga yang mendapat gaji Rp 1 juta per bulan ditambah Rp 500 ribu sebagai honor menjaga dan membersihkan halaman masjid.
Selain jadi marbot, Rahul juga bekerja sebagai guru honorer di salah satu MTs di Pancor Manis. Gaji rapel honoran dan Rp 1,5 juta per bulan tentu tak cukup. Namun menurutnya, di sinilah letak barokah menjadi seorang penjaga rumah Allah. "Kalau dihitung, sudah tidak terasa berkah yang saya dapatkan. Di setiap saya butuh, selalu ada jalan yang diberikan," jelasnya. (bersambung/r5)
Editor : Administrator