Para pedagang sudah angkat tangan membersihkan sampah itu. Kata Saparudin, sekarang dibersihkan, besok pagi akan kembali seperti sedia kala. Karena masalahnya bukan dari pengunjung pantai. “Melainkan dari orang-orang yang membuang sampah di sungai,” jelasnya.
https://www.youtube.com/watch?v=Ut1meXr7qao
Jika terus menerus seperti ini, lambat laun pengunjung akan memilih pantai lainnya. Kata Saparudin, kalau pengunjung lokal tidak apa-apa. Tapi seringkali ia malu kalau ada wisatawan asing atau dari luar daerah. “Kalau itu pasti tidak akan kembali lagi. Atau ke sini sebentar, setelah itu kabur,” terangnya.
Ia mengatakan, masalah sampah di pantai Labuhan Haji bukan persoalan yang mustahil untuk diselesaikan. Namun sayangnya, usaha tersebut yang belum dilakukan. Salah satu yang ia maksud adalah membuat jaring sampah di pintu masuk aliran sungai ke laut. “Itu saja belum dilakukan,” terangnya.
Penanganan sampah di Lotim memang butuh solusi permanen. Bersih-bersih pantai, pengangkutan sampah setiap hari, dan usaha jangka pendek lainnya tidak buruk. Tapi sampai kapan hal itu bisa bertahan. Jika setiap hari jumlah sampah disinyalir terus bertambah.
Aktivis lingkungan dari Gema Alam NTB Muhammad Juaini mengatakan, pemerintah tidak bisa berpangku tangan dengan mengandalkan program penyadaran kepada masyarakat saja. Namun dibutuhkan solusi permanen yang diwujudkan dalam program jangka panjang. "Usaha mengajak masyarakat memilah sampah organik dan anorganik akan sia-sia jika kelanjutannya tidak dipikirkan," jelas Juaini.
Menurutnya, percuma mendorong kesadaran publik tanpa menyiapkan hilirisasi dari sampah anorganik. Ia menerangkan, ekologi, edukasi, dan dampak ekonomi kepada masyarakat harus menjadi satu keutuhan program. “Pemerintah tidak bisa menggunakan pola lama dalam menyelesaikan persoalan ini,” terangnya. (tih/r5)
Editor : Administrator