Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pantai Labuhan Haji Disekat, Pedagang Ikan Bakar Merugi

Rury Anjas Andita • Jumat, 21 Mei 2021 | 19:00 WIB
TERLANJUR JUALAN: Pedagang ikan di objek wisata pantai Labuhan Haji menaruh ikan bakarnya di perapian, Kamis (20/5). Ditutupnya objek wisata menyebabkan kerugian bagi para pedagang yang sudah terlanjur memesan ikan. (Fatih/Lombok Post)
TERLANJUR JUALAN: Pedagang ikan di objek wisata pantai Labuhan Haji menaruh ikan bakarnya di perapian, Kamis (20/5). Ditutupnya objek wisata menyebabkan kerugian bagi para pedagang yang sudah terlanjur memesan ikan. (Fatih/Lombok Post)
SELONG-Ditutupnya objek wisata berdampak besar bagi para pedagang di wisata pantai Labuhan Haji, Desa Labuhan Haji, Kecamatan Labuhan Haji. Kamis (20/5), di hari pertama penutupan, puluhan pedagang kehilangan kesempatan mendapatkan laba.

“Informasi mengenai penutupan ini mendadak. Ikan sudah terlanjur dipesan. Mau tak mau kami harus jualan,” kata Lili Handayani, salah seorang pedagang ikan bakar di pantai Labuhan Haji.

Warga Dusun Mandar, Desa Labuhan Haji, Kecamatan Labuhan Haji itu mengaku merugi dengan tidak adanya pembeli. Dalam sehari, jumlah kerugian mencapai Rp 1 sampai 2 juta. Kata Lili, ia dan pedagang lainnya mengambil ikan di satu tempat.

Pesannya jauh hari sebelum lebaran. Jumlahnya bisa sampai puluhan boks. Tergantung jenis ikan, satu boks bisa bernilai Rp 1 juta. “Kalau sampai empat hari ke depan, ruginya sampai empat jutaan,” terangnya.

Pedagang ikan lainnya Amaq Pita mengatakan, laba yang biasanya ia dapatkan di saat lebaran topat bisa mencapai Rp 2 sampai 3 juta dalam sehari. Satu sampai tiga hari setelah lebaran saja, rata-rata per hari ia bisa mendapat keuntungan sampai Rp 1,5 juta.

Kata Amaq Pita, hal serupa dialami juga oleh semua pedagang ikan yang terlanjur jualan di hari pertama penutupan.

Namun mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Kata dia, karena tak ada satu pun pembeli, ikan yang sudah dibakar akan dibagikan ke tetangga. Sementara puluhan kilo ikan dalam boks harus disimpan menggunakan es batu agar bisa bertahan sampai wisata dibuka kembali.

Dia juga menjelaskan, kebijakan penutupan wisata karena pandemi Covid-19 mau tak mau harus dimaklumi. Kendati berdampak besar baginya. “Ikan ini saja kita ngutang,” keluhnya.

Penjabat Kepwil Dusun Mandar, Desa Labuhan Haji Yadin Amrullah menerangkan, sosialisasi kepada masyarakat khususnya pedagang langsung dilakukan di hari surat edaran penutupan dikeluarkan pada 18 Mei lalu. Ia menerangkan, kendati terlanjur berjualan, pedagang yang semuanya merupakan warga Dusun Mandar memahami kebijakan penutupan yang diambil pemerintah.

“Kita sudah berikan pemahaman mengenai situasi saat ini. Insyaallah warga memahami dengan baik,” kata Yadin.

Sementara itu, Camat Labuhan Haji Muhir menjelaskan, keberhasilan upaya pencegahan penyebaran Covid-19 melalui penutupan objek wisata di Labuhan Haji merupakan buah dari upaya pemerintah kelurahan dan desa. Di satu sisi, dampak yang dirasakan para pedagang memang menjadi konsekuensi dari upaya tersebut.

Kata Muhir, akan ada kerugian yang lebih besar jika pandemi Covid-19 menyebar di wilayah Kecamatan Labuhan Haji yang saat ini berstatus zona kuning. “Sudah ada tiga warga Labuhan Haji meninggal dunia karena Covid-19,” jelasnya. (tih/r5)

  Editor : Rury Anjas Andita
#antisipasi covid-19 #Lebaran Topat #Pantai Labuhan Haji