“Insya Allah kita siapkan untuk bisa dioperasi pada bulan Agustus,” kata Plt Direktur RSUD dr Raden Soedjono Selong dr M Tantowi Jauhari pada awak media, Senin (24/5).
RSUD Selong sebenarnya telah melakukan proses persiapan. Salah satunya menyiapkan peralatan dan peningkatan kapasitas tenaga medis. Namun pandemi Covid-19 masih menjadi kendala. Sementara di satu sisi bayi kembar siam Anaya dan Inaya secepatnya harus segera dioperasi.
“Kondisinya sangat tak terduga. Sehingga terpaksa kita harus membawanya ke Surabaya,” terangnya.
Pada Agustus mendatang, Anaya dan Inaya akan didampingi sepuluh tenaga medis dari RSUD Selong. Tantowi menerangkan, biaya yang dibutuhkan untuk melakukan operasi pemisahan di Surabaya sebesar Rp 500 juta. Itu diluar biaya akomodasi, pendampingan dan biaya lainnya.
Angka tersebut jauh lebih kecil dibanding jika harus menyelenggarakan sendiri operasi tersebut yakni sebesar Rp 1,5 miliar. Kendati lebih murah, gagal menjadi penyelenggara operasi bayi kembar siam tetap disayangkan. Apalagi jika berhasil, RSUD Selong akan menjadi rumah sakit pertama yang berhasil menyelenggarakan operasi bayi kembar siam di NTB.
“Kalau sebagai penyelenggara, peralatan juga kita miliki untuk seterusnya,” terangnya.
Bupati Lotim HM Sukiman Azmy menerangkan, Pemkab Lotim memastikan operasi pemisahan bayi kembar siam Anaya dan Inaya bisa segera dilakukan. Kata Sukiman, kekurangan biaya dari uang yang dikumpulkan masyarakat juga siap ditanggulangi Pemkab Lotim dari APBD. “Nanti mobil ambulans yang baru kita diberikan ini yang akan langsung mengantarkan Anaya dan Inaya ke Surabaya,” kata Sukiman. (tih/r5) Editor : Rury Anjas Andita