Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mimpi Qori’ Menyulap Pantai Labuhan Haji Jadi Objek Wisata Terbersih

Rury Anjas Andita • Senin, 18 Juli 2022 | 16:30 WIB
MENABUR BUNGA: Supriyani, warga Desa Dasan Borok, Kecamatan Suralaga menabur bunga di atas makam menantunya Julia Ningsih di TPU Dasan Borok, belum lama ini. Julia Ningsih merupakan salah satu pekerja migran dari Lombok Timur yang menjadi korban kapal ten
MENABUR BUNGA: Supriyani, warga Desa Dasan Borok, Kecamatan Suralaga menabur bunga di atas makam menantunya Julia Ningsih di TPU Dasan Borok, belum lama ini. Julia Ningsih merupakan salah satu pekerja migran dari Lombok Timur yang menjadi korban kapal ten
19 Mei 2022 lalu, Qori’ Bayyinaturrosyi memantapkan niat mengelola destinasi wisata pantai Labuhan Haji. Dengan segudang potensi yang dimiliki, magister kajian pariwisata UGM ini menemui segunung tantangan dalam membangun wisata di kampung kelahirannya.

----

Di pesisir pantai pantai Labuhan Haji, Qori’ selalu memandang dengan takjub keindahan matahari terbit di ufuk timur. Pagi yang hangat dengan desir ombak paling tenang merupakan suasana yang selalu ia rindukan saat berada jauh dari kampung halaman. Hal yang membuat menyadari potensi kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Labuhan Haji.

Namun kenyataan di balik keindahan dan sejarah panjang Labuhan Haji tak seperti yang diharapkan. Pantai itu ternyata memiliki segudang persoalan yang harus dibenahi untuk dapat menjadi destinasi wisata yang diminati orang. “Keamanan dan kebersihan,” kata Qori’ pada Lombok Post.

Keamanan dan kebersihan menurutnya merupakan poin utama yang harus dimiliki sebuah destinasi wisata. Ibarat tingkatakan ibadah, dua hal tersebut berada di tingkatan fardu ain atau bisa jadi di atasnya. Sementara yang kenyataannya, keindahan dan potensi pantai labuhan haji terbenam oleh dua persoalan tersebut. Kebersihan dan keamanan.

Siapa yang tak mengenal Labuhan Haji dengan sampahnya yang menggunung? Pertanyaan itulah yang ingin ia jawab dengan mengelola sebuah lokasi pantai di Dusun Montong Meong, Desa Labuhan Haji, Kecamatan Labuhan Haji. Kebetulan, lokasi itu adalah kampung halamannya.

Langkah awal yang ia lakukan adalah membranding ulang nama pantai Labuhan Haji. Ia memberi nama baru, Sunrise Land Lombok (SLL). Tidak hanya nama, pengelolaannya juga ia perbarui. Ia berupaya menggunakan tenaga pemuda setempat  dan menata kembali pantai tersebut. “Alhmadulillah, dengan nama itu, peningkatan pengunjung mencapai 300 orang,” kata Qori’.

Di lebaran Idul Adha kemarin, kunjungan ke SLL mencapai 5 ribu lebih. Angka yang fantastis. Namun hal itu saja tidak cukup. Mimpi menjadikan SLL sebagai destinasi wisata terbersih di NTB masih panjang untuk menjadi kenyataan. Salah satunya adalah mengenai kejelasan legalitas dirinya selaku pengelola.

“Ini juga butuh kepastian. Karena sekarang kami mau bangun ini itu, takutnya menjadi persoalan ke depan,” jelasnya.

Selain itu, SLL juga tengah berupaya membuat pantai Labuhan Haji menjadi tempat konservasi habitat penyu. Hal itu ingin dilakukan setelah melihat banyak induk penyu yang bertelur di pesisir pantai Labuhan Haji. (tih/r5) Editor : Rury Anjas Andita
#sunrise land lombok #Pantai Labuhan Haji