“Salah satunya imbas dari penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyebabkan beberapa peternak masih trauma memelihara sapi dalam jumlah banyak,” kata Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner Dinas Kesehatan Hewan Lombok Timur drh Hultatang pada Lombok Post, Rabu (15/3).
Penurunan daya beli ternak sapi sebenarnya bisa juga disebabkan oleh faktor ekonomi. Namun dampak PMK dan kehati-hatian peternak dalam membeli sapi juga bisa menjadi penyebab dominan. Kata Hultatang, dalam hal ini peternak juga memiliki pemahaman tersendiri tentang jual beli sapi.
Selain itu, tidak sedikit juga peternak yang karena dampak PMK memilih beralih beternak kambing yang cenderung lebih aman. Trauma dan ketakutan peternak tersebut menurut Hultatang sangat wajar terjadi. Kendati saat ini Lotim sudah nol kasus PMK. Di mana proses vaksinasi juga sudah memasuki pemberian dosis ketiga.
Hultatang melanjutkan, penurunan daya beli ternak sapi juga berimbas pada penurunan daya beli daging di pasar. Untuk hal ini pihaknya belum bisa memastikan. Namun dalam waktu dekat akan turun untuk melakukan peninjauan langsung di lapangan. “Tapi yang pasti stok atau ketersediaan daging ini sangat mencukupi. Untuk puasa sampai lebaran masih aman,” jelasnya.
Namun menurunnya daya beli masyarakat di tengah ketersediaan yang banyak tentu menyebabkan adanya penurunan harga. Saat ini hal tersebut terjadi pada daging ayam yang sebelumnya telah ditinjau langsung oleh Disnakeswan Lotim. Di mana harga daging ayam di pasar mengalami penurunan dari Rp 40 ribu menjadi Rp 35 ribu per kilogram.
Hal itu disebabkan oleh harga ayam berat hidup yang turun dari Rp 26 ribu menjadi Rp 12 ribu per kilogram. Kendati demikian, Hultatang memastikan jika yang terpenting adalah ketersediaan daging yang dibutuhkan masyarakat sangat tercukupi. Adapun mengenai harga akan menyesuaikan dengan peningkatakan daya beli.
“Jika permintaan sedikit dan barangnya banyak, harga tentu akan turun. Namun jika permintaan banyak dan barang sedikit, harganya akan naik. Bahkan bisa melambung tinggi,” kata Hultatang menjelaskan prinsip ekonomi.
Selain memastikan kelayakan dan kesehatan daging sapi dan ayam yang beredar di pasaran jelang bulan Ramadan, di tengah daya beli yang menurun, Disnakeswan Lotim memastikan jika ketersediaan daging masih sangat tercukupi. “Stok kita masih banyak,” jelasnya. (tih/r5) Editor : Rury Anjas Andita