Kepala Dinas Dikbud Lotim Izzuddin mengatakan, pihaknya meminta kepala sekolah menahan diri untuk tidak melakukan segala jenis kegiatan perpisahan yang sekiranya akan memberat siswa (orang tua murid). “Termasuk pelesiran,” kata Izzuddin pada Lombok Post, Kamis (1/6).
Itulah mengapa imbauan untuk melaksanakan kegiatan perpisahan, kelulusan atau pelepasan murid tersebut sebisa mungkin digelar sederhana di sekolah masing-masing. Imbauan ini menjadi lanjutan dari upaya Dinas Dikbud Lotim dalam menghindarkan sekolah dari tindakan pungutan liar (pungli).
Sebelumnya Izzuddin telah mengingatkan seluruh kepala SD-SMP untuk menghindari pungli. Larangan tersebut bahkan dinyatakan dengan keras dan tegas. Kalau pun permintaan bersifat partisipatif dari orang tua murid, ia meminta agar sekolah tidak mewajibkannya.
Selain perpisahan atau pelepasan yang bersifat formal di sekolah, biasanya SD-SMP juga menggelar kegiatan pelesiran ke tempat wisata. Dalam praktiknya, biaya kegiatan tersebut dibebankan pada murid. Itulah yang coba diingatkan oleh Izzuddin. “Sekali lagi kita minta kepala sekolah untuk bisa menahan diri,” jelasnya.
Daripada pelesiran, Izzuddin menjelaskan jika sebaiknya perpisahan diwarnai dengan kegiatan yang menampilkan kebolehan dan keterampilan siswa. “Atau mengamalkan profil pelajar Pancasila,” terangnya.
Ditanya mengenai kemungkinan beberapa kepala sekolah yang tidak mengindahkan imbauan tersebut, Izzuddin mengatakan akan melihat dan memantau sejauh mana kepala SD-SMP di Lotim merespons permintaannya. “Kita lihat nanti seperti apa bapak ibu kepala sekolah mencermati imbauan kita,” tutupnya. (tih/r5) Editor : Rury Anjas Andita