Masjid kuno Desa Songak, Lombok Timur (Lotim), sampai saat ini masih dimanfaatkan warga setempat sebagai tempat ibadah, meski sudah berumur ratusan tahun. Tidak seperti kebanyakan masjid kuno lainnya yang hanya digunakan ketika ada acara-acara keagamaan. Berikut ulasannya.
SUPARDI, Lombok Timur
Azan Isya baru saja selesai dikumandangkan dari masjid kuno, Desa Songak. Satu per satu masyarakat bergegas ke arah masjid. Untuk melaksanakan salat Isya dan dilanjutkan tarawih.
Tidak ada nama khusus yang disematkan pada masjid ini. Warga setempat menyebutnya dengan Mesigid Bengan, yang berarti Masjid Tua. Masjid itu merupakan bangunan bersejarah. Usianya ratusan tahun. Ada yang memperkirakan masjid ini telah berumur 715 tahun.
Meski sudah berabad-abad lamanya, tidak banyak yang berubah dari bangunan masjid. Temboknya masih dari paduan tanah liat dan bata merah. Alami dan rapi. Atapnya dari Jerami. Juga empat pilar masjid, yang dari kayu, masih berdiri kokoh.
Pada tahun lalu, masjid ini telah dipugar. Namun, dengan tetap mempertahankan bangunan aslinya. ”Hanya atapnya kami perbaiki. Kalau tiang dan tembok tidak pernah diganti sejak berdirinya masjid,” kata Tokoh Adat Desa Songak, Guru Murdiah, Minggu (17/3).
Di Desa Songak terdapat dua masjid. Hanya saja, warga setempat tetap menjadikan masjid sebagai tempat ibadah. Masjid ini tetap digunakan untuk salat lima waktu, Idul Adha, Idul Fitri, tarawih, hingga acara adat keagamaan lainnya.
”Kami juga gunakan sebagai tempat musyawarah dan acara adat lainnya. Masyarakat tidak ingin masjid ini hanya sebatas bangunan tua yang mengandung banyak sejarah,” imbuhnya.
Murdiah menyebut, tidak ada masyarakat yang tahu persis siapa pendiri dan kapan didirikannya masjid ini. Namun berdasarkan cerita yang ada, masjid ini diperkirakan berdiri sejak tahun 1309 lalu.
Sebelum membuat masjid yang baru, masjid kuno ini sempat diusulkan untuk digunakan hanya sesekali saja. Mengingat bangunannya sangat sempit dan tidak bisa menampung banyak orang. Tetapi sebagian besar masyarakat menolak, sehingga masjid tetap dimanfaatkan dan dirawat sampai sekarang.
”Makanya aktif digunakan sehari-hari, tidak hanya di Ramadan saja,” sebutnya.
Tokoh Muda Mesigid Bengan Desa Songak Saipullah Haqqul Yaqin menambahkan, ada mitos yang berkembang di tengah masyarakat terkait bangunan masjid ini. Dulunya masjid ini berdiri seperti jamur yang tumbuh. Bermula dari tumpukan tanah, kemudian tumbuh secara perlahan-lahan sehingga membentuk sebuah masjid.
Sejak dahulu masjid ini selalu dirawat masyarakat Songak. Sebelumnya atap masjid biasanya direnovasi setiap 300 tahun sekali, kemudian berubah menjadi 50 tahun sekali dan akhirnya menjadi 20 tahun sekali.
”Setahu saya baru empat kali di renovasi. Karena jeraminya mudah hancur. Kalau kayu dan temboknya tidak pernah berubah. Atapnya saja yang berubah,” jelasnya pria yang akrab disapa bang Epol itu.
Selam Ramadan, masjid kuno ini selalu ramai dengan berbagai kegiatan. Mulai dari tarawih hingga tadarusan. Selain bangunan masjid, sebuah khotbah idul Adha juga ditemukan dan masih disimpan sampai saat ini. Lembaran khotbah itu terbuat dari kulit, dengan tulisan cukup rapi dan masih sangat jelas untuk dibaca.
Ia berharap, agar masjid kuno bisa dijaga dan dirawat masyarakat, khususnya generasi muda. Agar fungsinya tetap berjalan seperti masjid pada umumnya. Sehingga tidak menjadi bangunan tua kosong yang hanya meninggalkan cerita sejarah.
”Kami generasi muda terus berupaya merawat dan menjaga masjid ini supaya fungsinya sebagai masjid betul-betul bisa berjalan,” tandasnya. (*/r11)
Editor : Akbar Sirinawa