LombokPost-Bulog menargetkan menyerap 15 ribu gabah petani di Lombok Timur (Lotim) pada tahun ini. ”Kita sudah kumpul dengan mitra pengadaan gabah se-Lotim. Kita sedang melakukan persiapan pengadaan karena panen sudah mulai,” terang Kepala Cabang Bulog Lotim M Syaukani, Kamis (21/3).
Petani yang sudah panen baru sekitar 20 persen. Bulog akan berusaha menyerap gabah petani sebanyak mungkin. Bahkan Bulog bersama mitra telah bertemu dengan Bupati Lotim untuk persiapan panen raya.
Dalam kunjungan tersebut Syaukani menyampaikan para mitra gelisah terkait distribusi dan ketersediaan gabah di Lotim. Karena banyaknya pengepul gabah dari luar daerah yang membeli gabah petani.
Mitra Bulog berharap Peraturan Gubernur (Pergub) NTB Nomor 38 tahun 2023 tentang Pengendalian dan Pengawasan Distribusi Gabah dapat ditegakkan. Demi menjaga ketersediaan pangan dan stabilitas harga di daerah.
”Dalam pertemuan dengan pak Bupati kemarin. Kami bersama mitra meminta agar gabah di daerah ini bisa diawasi dan dikendalikan supaya tidak keluar daerah,” imbuhnya.
Menurutnya, selain mengganggu ketersediaan pangan dan stabilitas harga, pengiriman gabah ke luar daerah juga mengancam usaha penggilingan. Ini tentu berdampak terhadap lapangan kerja.
Kualitas beras asal Lombok, disinyalir menjadi salah satu faktor harga beli dari pengepul luar daerah lebih tinggi. Apalagi jika dibandingkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) melalui Bulog yang ditetapkan Badan Pangan Nasional (Bapanas). Sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Bapanas Nomor 6 tahun 2023.
”HPP Gabah Kering Panen (GKP) di petani Rp 5.000 per kilogram, sementara harga yang ditawarkan di luar daerah mencapai Rp. 6.000 per kilogram,” ujarnya.
Pj Bupati Lotim H M Juaini Taofik menyampaikan, pihaknya segera berkomunikasi dengan Pemprov NTB agar dapat melakukan evaluasi. Guna memperkuat pengawasan di pintu keluar seperti pelabuhan.
”Kita akan koordinasi dengan Pemprov NTB agar bisa diperketat gabah yang keluar dari pelabuhan ,” jelasnya. (cr-par/r11)
Editor : Akbar Sirinawa