Sebagian besar orang melakukan olahraga lari ketika pagi atau sore hari. Namun berbeda dengan Komunitas Be-Rari ini. Selama Ramadan, olahraga lari dilakukan pada malam hari. Berikut ulasannya.
SUPARDI, Lombok Timur
Tidak lama setelah salat isya dan tarawih, ratusan orang mulai memadati area Taman Rinjani Selong. Mereka berasal dari berbagai kalangan. Terlihat mengenakan kostum olahraga lengkap, dari baju, celana hingga sepatu.
Ratusan orang ini tergabung dalam komunitas Be-Rari. Komunitas olahraga lari yang ada di Lombok Timur (Lotim).
Meski Ramadan, aktivitas berlari mereka tetap dilaksanakan. Berlari puluhan kilometer mengelilingi Kota Selong.
Ketua Komunitas Be-Lari Lalu Martha Kusuma menceritakan, komunitas ini muncul berawal 2019 lalu. Di mana saat itu berat badannya mencapai 82 kilo lebih. Sehingga ia memutuskan untuk konsisten melakukan olahraga lari, agar memperoleh berat badan ideal.
”Waktu itu saya sendirian yang lari. Karena pagi sibuk kerja, akhirnya saya lari malam di sekitar Kota Selong,” terangnya, Minggu (31/3).
Rutinitas lari malam ini secara konsisten dilakukan sampai dengan tahun 2023 lalu. Pada tahun itu, Martha bertemu dengan lima orang yang sama-sama hobi dengan lari. Komunitas kecil ini akhirnya mulai terbentuk yang dimulai dengan membuat grup WA.
Setelah terbentuknya grup WA, ia mulai membuat jadwal lari bareng. Seiring berjalannya waktu banyak yang ikut bergabung. Hingga saat ini, anggota komunitas mencapai 180 orang.
”Terakhir kemarin saya lihat ada 180 orang anggota kita. Kemungkinan jumlahnya akan semakin bertambah,” ungkapnya.
Anggota komunitas Be-Rari disebut dari berbagai kalangan dan profesi. Mulai dari anak-anak, anak muda, Dokter hingga atlet lari. Berasal dari profesi yang beragam, membuat komunitas ini melakukan olahraga lari pada malam hari. Karena pagi harinya banyak yang bekerja.
Tidak hanya melakukan olahraga lari. Komunitas Be-Rari sebagai ajang ajang silaturahmi antar pelari dan wadah berdiskusi. Serta bertukar informasi terkait berbagai persoalan.
”Setelah lari bisanya kita kumpul, di sana kita berdiskusi dan bertukar informasi banyak hal. Jadwal lari itu setiap malam rabu. Kalau selama Ramadan ini kita mulai dari jam 21.00 Wita,” jelasnya.
Keberadaan komunitas ini diharapkan bisa meminimalisir balap lari ilegal yang marak terjadi selama Ramadan. Aksi tersebut menuai protes dari masyarakat karena mengganggu pengguna jalan raya.
Komunitas ini juga diharapkan menjadi wadah untuk melahirkan atlet lari asal Lotim. ”Sekarang ini hanya lari olahraga biasa. Tapi kedepannya kami harap ada atlet lari yang lahir dari komunitas ini,” katanya.
Komunitas Be-Rari mendapatkan respons baik dari berbagai kalangan. Dipilihnya wilayah Kota Selong sebagai lokasi lari, dikarenakan sepanjang jalan cukup terang dengan adanya lampu penerangan jalan umum (PJU).
”Kalau agak pinggiran (kota) jalannya sedikit gelap, makanya kita hanya keliling di sekitar Selong saja. Start dan finis kita mulai dari Taman Rinjani Selong,” pungkasnya. (*)
Editor : Akbar Sirinawa