Salah satu cara masyarakat Lombok Timur (Lotim) menyambut malam Lailatul Qadar yakni dengan menggelar acara maleman. Pada acara ini, ada Dila Jojor atau obor kecil di setiap sudut rumah dan pinggir jalan selama 10 malam terakhir Ramadan. Berikut ulasannya.
SUPARDI, Lombok Timur
Azan Magrib baru saja selesai dikumandangkan. Beberapa keluarga masih menikmati menu berbuka puasa mereka. Namun, anak-anak mulai gelisah. Sibuk mencari teman sebayanya sambil menenteng satu ikat Dila Jojor.
Anak-anak ini lantas berkumpul. Menyalakan Dila Jojor yang terbuat dari biji nyamplung dengan campuran kapas, dengan cara dibakar, kemudian ditancapkan di sudut-sudut pekarangan rumah dan jalan raya.
Menyalakan Dila Jojor disebut sebagai tradisi maleman. Biasanya dilakukan pada 10 malam terakhir Ramadan, terutama di malam ganjil. Sebab, umat Muslim meyakini Lailatul Qadar jatuh pada malam ganjil.
Budayawan Lotim Muhir menjelaskan, acara maleman ini merupakan tradisi menyambut malam Lailatul Qadar. Dilakukan sejak ribuan tahun lalu oleh masyarakat Lombok. Dila Jojor memiliki filosofis dan makna tersendiri.
Dila Jojor diartikan sebagai penerang. Sebagaimana Alquran yang diturunkan pada malam Lailatul Qadar, yakni sebagai petunjuk bagi semua manusia di dunia.
”Dila artinya lampu yang terang. Jadi menyalakan Dila Jojor ini untuk menerangi sesuatu yang gelap,” terang Muhir, Selasa (2/4).
Mantan Kabid Kebudayaan Dikbud Lotim ini menyebut, tradisi masyarakat Sasak Lombok menyalakan Dila Jojor ini sebagai implementasi dari prinsip hidup yang disebut panca arif.
Filosofi menyalakan Dila Jojor, yakni bagaimana menjaga hubungan manusia dengan manusia. Artinya fungsi Dila Jojor dapat membantu penerangan jalan, terutama jalan menuju masjid atau musala ketika orang-orang hendak beribadah atau iktikaf pada malam-malam terakhir Ramadan.
”Karena dulu belum ada lampu penerang. Inilah dia hablum minannas itu,” ungkap Muhir.
Makna kedua, implementasi dari penghormatan dan penghargaan kepada alam. Cahaya Dila Jojor dapat memberikan penerangan kepada lingkungan sekitar. Sebab pada zaman dahulu kondisi sekitar masih sangat gelap karena tidak ada lampu .
Kemudian di prinsip ketiga, masyarakat Sasak percaya, ada makhluk lain yang diciptakan Tuhan, yang tidak bisa dilihat dipegang dan dirasakan keberadaannya. Sebagai bentuk penghormatan kepada makhluk tersebut, Dila Jojor dipasang di setiap sudut rumah untuk memberikan penerangan.
”Secara mitologi masyarakat percaya makhluk gaib bertempat tinggal di pojok tertentu yang gelap,” sebutnya.
Tradisi maleman masih dilakukan sebagian masyarakat Lotim. Namun ia melihat tradisi maleman saat ini berbeda dengan sebelumnya. Beberapa dekade lalu, menyalakan Dila Jojor memiliki ritual tersendiri. Namun sekarang ritual itu sudah tidak ada. Dila Jojor saat ini juga banyak digantikan lampu-lampu dari minyak tanah bahkan lampu hias.
”Tradisi Maleman masih tetap ada, hanya saja ritualnya yang hilang. Karena konsep dasarnya membuat penerangan, sehingga banyak yang menggunakan lampu hias. Namun di beberapa wilayah memang sampai saat ini masih menggunakan Dila Jojor,” tutup Muhir. (*/r11)
Editor : Akbar Sirinawa