Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kisah Sawiah, Buruh Kasar yang Sekolahkan Anaknya Hingga Lulus Sarjana

Supardi/Bapak Qila • Rabu, 8 Mei 2024 | 09:10 WIB

 

KERJA: Ibu Sawiah saat bekerja untuk mencabut rumput di sela tanaman cabai di lahan pertanian milik salah seorang petani di Kecamatan Sakra. (FOTO: SUPARDI/LOMBOK POST)
KERJA: Ibu Sawiah saat bekerja untuk mencabut rumput di sela tanaman cabai di lahan pertanian milik salah seorang petani di Kecamatan Sakra. (FOTO: SUPARDI/LOMBOK POST)

Meskipun tidak bisa baca tulis, kepedulian Sawiah terhadap pendidikan sangat tinggi. Ini yang kemudian menebalkan semangat dan tenaganya dalam bekerja, dengan tujuan menyekolahkan anaknya setinggi mungkin. Berikut ulasannya.

SUPARDI, Lombok Timur.

Mentari pagi baru saja mulai merangkak naik memancarkan sinarnya. Sekelompok ibu-ibu desa nampak bersiap dengan seragam lengkap dan perlengkapan kerja ala petani. Mulai dari sabit hingga topi anyaman.

Setelah semua perlengkapan siap, kelompok ibu-ibu yang merupakan buruh tani ini mulai berjalan menyusuri pematang sawah. Meski ibu-ibu namun semangat kerjanya tidak kalah dengan laki-laki.

Dari sejumlah buruh tani perempuan ini, terselip nama Sawiah. Usianya 56 tahun, asal Desa Kabar, Kecamatan Sakra, Lombok Timur. Pekerjaan sebagai buruh tani sudah dilakoninya puluhan tahun. Bahkan semenjak Sawiah masih dedare (Gadis, Red).

Di masa remajanya itu, di akhir tahun 1970, gadis desa seperti Sawiah dihadapkan pada tiga pilihan. Menjadi petani, pedagang, atau buruh. Namun, karena tidak memiliki sawah dan bakat berdagang, dia terpaksa menjadi buruh kasar.

”Hampir semua pekerjaan pertanian sudah saya kerjakan. Dari menanam padi, panen padi, cabut rumput, tanam tembakau, panen tembakau, angkut batu, bata, pasir dan pekerjaan yang lain,” ungkap Sawiah, Selasa (7/5).

Pagi-pagi sebelum subuh Sawiah sudah harus bangun, untuk memasak dan santap pagi bersama anaknya. Bangun pagi adalah sebuah rutinitas yang dilakukan setiap hari. Meski bukan pegawai kantoran, namun Sawiah sangat disiplin dalam bekerja. 

Gaji yang didapatkan per hari tidak menentu, antara Rp 35 ribu hingga Rp 50 ribu. Bisa lebih tinggi di waktu-waktu tertentu, seperti pada musim panen padi dan panen tembakau, karena menggunakan sistem borongan.

”Kalau panen tembakau itu kita borong sampai selesai dan gajinya akan diberikan setelah selesai musim tembakau. Biasanya sebulan baru diberikan. Tapi upahnya bisa sampai Rp 2 juta,” katanya.

Meskipun berpenghasilan tidak tetap, namun Sawiah sangat peduli dengan pendidikan anaknya. Dia tidak ingin anaknya menjadi seperti dirinya, yang tidak bisa baca tulis. Untuk itu, Sawiah rela banting tulang, agar putranya bisa sekolah sampai ke jenjang yang lebih tinggi.

Diceritakan Sawiah, pada 2013 silam, yang merupakan tahun pertama anaknya menempuh pendidikan tinggi, dia bersama almarhum suaminya sempat berdiskusi panjang. Hingga memutuskan agar anaknya tidak kuliah, karena biaya yang cukup besar.

Namun, keputusan itu berubah. ”Akhirnya saya suruh daftar di mana dia mau kuliah. Keyakinan saya, pasti ada jalan, Tuhan pasti memberikan jalan, meski pekerjaan saya upahnya tidak tetap,” beber Sawiah.

Keyakinan itu yang membuat Sawiah bekerja sangat keras. Panas, hujan, dihadapinya dengan Ikhlas. Dengan satu tujuan, agar biaya sekolah anaknya bisa terbayarkan. Agar anaknya tidak putus kuliah lantaran tidak memiliki biaya.

Usaha Sawiah tidak sia-sia. Putra semata wayangnya pun membalas kerja keras Sawiah dengan sangat manis. Yakni dengan memberikan undangan untuk menghadiri wisata pada 2017.

Bagi Sawiah, undangan wisuda itu membayar lunas seluruh lelahnya bertahun-tahun. Membungkam nada-nada miring, yang menganggap dia tak mampu menguliahkan anaknya hingga lulus. Bangga dan terharu hingga rasa tak percaya, karena anaknya mampu lulus di UIN Mataram.

”Saya tidak bisa ungkapkan dengan kata-kata. Serasa mimpi karena sebelumnya saya tidak pernah menyangka bisa menyekolahkan anak saya sampai sarjana. Karena ekonomi kami jauh dari kata cukup. Alhamdulillah sekarang anak saya juga sudah kerja di salah satu perusahaan di Mataram,” tutupnya dengan sedikit haru. (*/r11)

 

Editor : Akbar Sirinawa