LombokPost-Muliadi merupakan salah satu kusir Cidomo asal Lombok Timur (Lotim) yang tetap bertahan sampai saat ini.
Bertahan dari gempuran ojek online dan transportasi angkutan umum. Berikut ulasannya.
Memasuki parkiran Pasar Terminal Pancor, sejumlah Cidomo terparkir rapi.
Sementara sang kusir terlihat duduk di dalam Cidomo sembari menunggu penumpang.
Setelah beberapa jam menunggu, seseorang perempuan dengan barang-barang mendekat dan menaikkan barang bawaannya ke Cidomo.
Cidomo merupakan salah satu alat transportasi sejak zaman dahulu yang tetap eksis sampai saat ini.
Namun keberadaan Cidomo saat ini sudah mulai jarang digunakan.
Sebagian besar masyarakat beralih menggunakan jasa ojek dan angkutan umum.
Salah satu kusir Cidomo Muliadi asal Desa Dasan Lekong, Kecamatan Sukamulia menceritakan, menjadi kusir Cidomo sudah puluhan tahun dijalani.
Pahit manis menjadi kusir telah habis dilalui.
Mencari penumpang saat ini diakui tidak semudah beberapa tahun silam.
Dalam sehari ia hanya bisa membawa penumpang 3-4 penumpang.
“Sepi, paling banyak 5 orang. Tapi itu sangat jarang sekali, paling sering 3-4 orang penumpang yang saya bawa sehari,” terang Muliadi, saat ditemui di Pasar Terminal Pancor, Minggu (2/6).
Sebelum menjadi kusir Cidomo, ia sebelumnya mengadu nasib menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Malaysia selama dua tahun lebih.
Namun hal itu belum bisa memperbaiki keadaan ekonominya.
Sebagai seorang yang lahir dari keluarga seorang kusir ia akhirnya memutuskan untuk mengikuti jejak sang ayah.
Disebutkan, para kusir Cidomo sebagian besar sudah mulai beralih ke pekerjaan lain. Hal ini karena kurangnya penumpang.
Sebagian besar orang sudah memiliki kendaraan masing-masing. Ditambah lagi dengan keberadaan ojek online.
Para penumpang lebih memilih menggunakan jasa ojek daripada cidomo.
Mereka yang menggunakan cidomo, biasanya karena jarak tempuh yang dekat.
Karena itu, sehari-hari ia biasanya mengantar ibu-ibu yang pulang dari pasar dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Sehingga upah yang diambil juga sedikit.
Selain mengantar penumpang dari pasar, ia juga kerap membawa wisatawan dari luar daerah, seperti dari Bali dan Jawa untuk keliling di kota Selong dan ke desa-desa sekitarnya.
Upah yang didapatkan dalam sekali mengantar mulai dari Rp 50 ribu-Rp100 ribu. Akan tetapi itu sangat jarang sekali.
Karena itu, dia berharap agar cidomo ini bisa diatur pemerintah. Salah satunya sebagai alat transportasi wisatawan, di daerah-daerah wisata. Agar Cidomo tetap eksis di Lotim dan para kusir juga bisa lebih sejahtera. (par/r11)
Editor : Kimda Farida