Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kisah Mahnur, Bertahan Menjadi Pemecah Batu Apung, Hanya Diupah Rp 2.000 Per Karung

Supardi/Bapak Qila • Selasa, 4 Juni 2024 | 17:15 WIB
MEMECAH: Mahnur salah seorang warga Kelurahan Geres, Kecamatan Labuhan Haji saat memecah batu apung. (SUPARDI/LOMBOK POST)
MEMECAH: Mahnur salah seorang warga Kelurahan Geres, Kecamatan Labuhan Haji saat memecah batu apung. (SUPARDI/LOMBOK POST)

LombokPost-Mahnur, 60 tahun, merupakan satu dari puluhan perempuan di Kelurahan Geres, Kecamatan Labuhan Haji, Lombok Timur yang bergantung kepada hasil memecah batu apung.

Meski hanya diupah Rp 2.000 per karung, namun ia tetap bertahan dengan pekerjaan itu.

Berikut ulasannya.

Dua perempuan paruh baya terlihat duduk di tengah tumpukan batu-batu kecil seukuran genggaman tangan.

Tangan mereka terlihat cekatan memecah batu-batu apung menjadi beberapa bagian.

Sesekali mereka beranjak dari tempat duduk untuk sekadar menghilangkan rasa pegal yang mulai menyerang pinggang.

Duduk berjam-jam sudah menjadi pekerjaan sehari-hari bagi sebagian besar ibu-ibu rumah tangga di Kelurahan Geres Kecamatan Labuhan Haji, Lombok Timur (Lotim).

Sedangkan laki-laki biasanya akan bekerja di pabrik penghancur batu sebagai buruh angkut.

Hampir setiap pekarangan rumah di Kelurahan Geres dipenuhi dengan tumpukan batu apung kecil.

Salah satunya ialah Mahnur.

Menjadi pemecah batu apung sudah puluhan tahun dilakoni.

Bahkan sejak ia masih muda.

Menjadi pemecah batu merupakan satu-satunya pekerjaan yang diandalkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Terlebih semenjak pisah dengan sang suami.

Ia harus banting tulang untuk mencukupi kebutuhannya dan dua orang anaknya.

”Tidak ada pekerjaan lain yang saya andalkan. Mau bertani tidak punya sawah. Mau berdagang tidak punya modal,” terang Mahnur saat ditemui di sela-sela kesibukannya, Senin (3/6).

Upah yang diberikan per karung hanya Rp 2.000. Dalam sehari ia hanya dapat 10-15 karung.

Gaji biasanya akan diberikan sekali dalam seminggu dengan kisaran Rp 150-Rp 300 ribu.

Tapi paling sering ia hanya mendapatkan Rp 200 ribu per minggu,.

Tergantung tingkat ketekunan memecah batu.

Batu-batu itu biasanya diantarkan langsung oleh supir Dump truk sekali dalam seminggu, bersama karung untuk mengisi batu-batu yang telah dipecah.

Ia dan kawan-kawannya hanya bertugas untuk memecah saja dan menyiapkan peralatan pemecah.

”Termasuk lahan ini sopir yang sewakan. Kita hanya terima bersih saja, Karung juga dia yang siapkan,” ungkapnya.

Menjadi pemecah batu apung terlihat sangat sederhana, namun membutuhkan kehati-hatian.

Jika kurang konsentrasi maka parang yang digunakan bisa saja mengenai tangan.

Meski pengalaman itu belum pernah dialami namun ia selalu mengantisipasi agar tidak sampai terjadi. (par/r11)

 

Editor : Kimda Farida
#batu #pekerjaan #Perempuan