LombokPost--Ratusan desa/kelurahan di Lombok Timur (Lotim) tak semuanya memiliki relawan pemadam kebakaran (Redkar).
Padahal relawan ini dibutuhkan untuk penanganan langsung saat terjadi kebakaran.
”Jangan nanti setelah terjadi kebakaran baru dibentuk,” Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Lombok Timur (Lotim) H Abadi, Selasa (10/9).
Pembentukan Redkar di tingkat desa merupakan amanat Menteri Dalam Negeri.
Sayangnya, dari 245 desa dan kelurahan di Lotim, baru 25 di antaranya yang membentuk Redkar.
Padahal, Dinas Damkarmat telah mendorong pembentukan Redkar dari setahun lalu.
Ditandai dengan menjadikan Desa Sukamulia Timur sebagai desa percontohan.
Abadi menerangkan, Redkar sangat penting ada di desa. Salah satu fungsinya melakukan penanganan dan penyelamatan awal ketika kebakaran terjadi, sebelum tim datang. Sehingga dampak kebakaran bisa diminimalisir.
”Api ini cepat menyebar dan membesar, makanya harus ditangani cepat. Kalau hanya menunggu tim Damkarmat semua bisa habis terbakar,” jelasnya.
Ditargetkan pada tahun 2025 mendatang semua desa dan kelurahan sudah memiliki Redkar.
Diharapkan desa mengajukan anggota Redkar untuk diberikan pelatihan dan cara penyelamatan ketika terjadi kebakaran.
”Setelah diajukan kami akan dampingi mereka, kita berikan materi dan praktik langsung cara memadamkan api,” jelasnya.
Jika Redkar di masing-masing desa telah terbentuk, nantinya akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Terutama ibu-ibu.
”Saat sosialisasi kita akan bawakan alat-alat lengkap untuk memberikan edukasi, supaya mereka tidak panik. Karena bahaya kalau sudah panik,” Tandasnya.
Sementara itu, Sekdis Damkarmat Lotim Serkapuddin menambahkan, peristiwa kebakaran di Lotim setiap tahunnya marak terjadi.
Pada 2023 lalu kasus kebakaran yang di Lotim mencapai 103 kasus.
Sementara pada tahun 2024 sejak bulan Januari-Agustus kasus kebakaran mencapai 70 kasus lebih.
”Belum kita masukkan yang bulan September ini. Bahkan sehari itu ada dua kasus yang terjadi,” katanya. (par/r11)
Editor : Kimda Farida