LombokPost-Meskipun sebagian besar wilayah Lombok Timur (Lotim) sudah diguyur hujan, status tanggap darurat kekeringan di delapan kecamatan belum dicabut. Kondisi ini disebabkan masih banyak warga mengalami kekurangan air bersih.
”Sebagian besar masih mengalami kesulitan air bersih. Sumur-sumur warga masih kering meskipun sudah memasuki musim hujan,” terang Kalak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lotim Lalu Muliadi, Selasa (12/11).
Kata dia, sampai hari ini pihaknya masih melakukan distribusi air bersih ke delapan kecamatan yang terdampak kekeringan, antara lain Sakra; Sakra Timur; Sakra Barat; Jerowaru; Keruak; Sambelia; Pringgabaya; dan Suela. Kekeringan terparah terjadi di Jerowaru, Sakra Timur, dan Suela.
”Seiring turunnya hujan, permintaan distribusi air mulai berkurang. Tapi kalau yang tiga kecamatan terparah ini permintaan air tetap ada,” Katanya.
Kondisi kekeringan 2023 disebutnya lebih parah dibandingkan tahun ini. Pada 2023 musim kemarau lebih panjang, hingga akhir November hujan tidak kunjung turun. Namun tahun ini awal November hujan sudah turun dan krisis air sudah berkurang.
Selain Kekeringan, pihaknya juga sudah memetakan sejumlah titik yang rawan terjadinya bencana alam. Seperti banjir, tanah longsor, pohon tumbang dan bencana lainnya, pada musim hujan ini.
”Kemarin sudah ada wilayah yang mengalami banjir, itu penyebabnya karena luapan,” tandasnya.
Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Lotim Rusman menyampaikan, Lotim saat ini menghadapi dua bencana sekaligus, yakni kekeringan dan banjir. Meskipun hujan dengan intensitas cukup besar telah turun mengguyur Lotim, namun beberapa wilayah masih mengalami krisis air bersih.
”Status kekeringan sejak pertengahan Oktober berada pada darurat kekeringan dan sampai saat ini belum dicabut,” tandasnya. (par/r11)
Editor : Redaksi Lombok Post