LombokPost-Di tangan orang-orang kreatif, sampah plastik bisa menjadi produk yang bagus dan menjadi pundi-pundi rupiah.
Seperti yang dilakukan Husni Hari, warga Desa Kesik, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur, yang menyulap limbah plastik hingga sisa kain menjadi produk yang bagus dan mahal.
Berikut ulasannya.
------------------
Toko dengan ukuran tidak terlalu besar itu ditata dengan menarik.
Dindingnya dihiasi berbagai kerajinan.
Terlihat dua topi pantai berukuran besar berbahan plastik kopi saset tergantung di dinding pojok sebelah kiri.
Sementara sejumlah produk dengan berbagai bentuk ditempatkan di etalase depan toko.
Siapa sangka, tas, topi, dompet, sandal hotel, keset, selimut dan berbagi produk lainnya ini terbuat dari sampah plastik dan kain perca.
Meski demikian, ini tetap diminati banyak orang.
Produk itu hasil kreasi Husni Hari.
Dia pemilik Rumah Kreatif Linsi di Desa Kesik.
Dia mengawali bisnis kerajinan itu sejak 2015. Berangkat dari keresahannya melihat banyaknya sampah plastik yang terbuang.
”Dulu saya hanya buka rumah jahit biasa saja. Karena banyaknya sampah plastik ini, membuat saya berpikir dan mencoba untuk membuatnya menjadi kerajinan seperti tas, dompet dan topi dari plastik,” beber perempuan yang akrab disapa Lin itu, Minggu (24/11).
Produk-produk yang sudah jadi dipajang di rumah jahit miliknya.
Tidak disangka, produknya laku keras. Bahkan membuat tetangganya tertarik untuk belajar membuat kerajinan dari limbah plastik.
Bahkan Lin membuat terobosan berupa menukar sampah plastik dengan sembako.
Limbah plastik yang disulap menjadi barang dibeli langsung oleh mitranya.
”Mitra saya biasanya jual produk kami ke luar negeri. Makanya berapa pun produk yang kami buat selalu habis,” katanya.
Setelah membuat kerajinan dari sampah plastik, Lin ditawarkan kain perca oleh salah satu pengusaha konveksi. Kain-kain itu kemudian dibuat menjadi keset, tas dan dompet.
Benar saja tiga produk ini juga banyak diminati.
”Nah dari sana rumah jahit saya ini penuh dengan produk-produk dari sampah dan kain perca sampai sekarang jadi rumah kreatif,” katanya.
Puncak kesuksesan mengolah kain perca terjadi ketika pandemi Covid-19.
Saat itu semua usaha terdampak, namun bagi Lin, di tahun itu menjadi kejayaannya. Kain perca disulap menjadi masker dan sangat laku di masyarakat.
Selama pandemi puluhan ribu masker dibuat dan selalu habis terjual.
Seiring berjalannya waktu, usaha miliknya semakin berkembang dan maju.
Produk yang dibuat semakin banyak dan beragam model. Bahkan diminati hotel-hotel di Lotim dan Bali.
”Saat ini kami sedang mengerjakan 5 ribu pesanan sandal hotel,” katanya.
Beberapa tahun terakhir, produk kain perca tengah naik daun, terutama topi dan sandal hotel.
Sangat laku keras. Untuk memenuhi tingginya permintaan itu, ia merekrut lima orang penjahit tetap. Namun ketika permintaan tinggi ia akan merekrut sejumlah penjahit tambahan.
Saat ini toko kreatif miliknya tidak hanya sebagai pusat oleh-oleh produk berbahan kain perca dan plastik.
Namun menjadi tempat anak-anak pelatihan. Bahkan dirinya juga kerap diminta untuk mengisi pelatihan di beberapa daerah.
Berkat kreativitasnya itu, Lin bahkan mendapatkan penghargaan dari Iriana Jokowi sebagai salah satu perempuan kreatif dan inovatif di Indonesia. (*/r11)
Editor : Kimda Farida