Mahdan merupakan salah satu penjahit lanjut usia yang masih aktif di Desa Selagik, Lombok Timur (Lotim). Dalam usahanya, Mahdan mengandalkan sisa kain yang dibeli dari pelaku konveksi untuk kemudian dibuat baju dan dijual keliling desa. Berikut ulasannya.
SUPARDI, Lombok Timur.
Di pojok teras rumah, sosok lelaki duduk di depan mesin jahit manual yang sudah tua. Beberapa bagian mesin terlihat sudah rusak. Suara yang keluar dari mesin juga cukup berisik, Meski begitu, mesin itu tetap dimanfaatkan Mahdan untuk mencari rezeki.
Mahdan yang telah berusia 72 tahun, masih cukup bertenaga. Kedua kakinya masih kuat mengayuh mesin jahit miliknya. Dengan bantuan lampu penerangan kecil yang diletakkan di atas mesin, ia terlihat sangat teliti dan fokus melihat jalannya benang hitam yang menjahit bagian demi bagian kain sederhana itu.
Dengan usia yang tak lagi muda, Mahdan masih produktif. Menjahit berbagai model seragam. ”Saya belajar otodidak, hanya melihat-lihat orang tua saya dulu menjahit, karena di Desa Selagik ini semua orang bisa menjahit dan sudah turun temurun. Sebagian besar orang di sini menjadi penjahit,” terang Mahdan. Senin (25/11).
Meski belajar otodidak dan masih menggunakan mesin jahit sederhana, hasil jahitannya tak kalah bagus. Berbagai model baju bisa dibuatnya.
Hanya saja, ia tidak memiliki modal cukup untuk membeli kain yang lebih bagus dalam jumlah banyak di toko-toko grosir seperti penjahit lainya. Mahdan hanya membeli beberapa potong kain sisa dari penjahit-penjahit besar.
”Kalau punya uang Rp 100 ribu, saya beli beberapa potong kain, kemudian itu saya jadikan sebagai baju atau celana dan dengan modal segitu cukup untuk membuat 3-4 baju atau celana,” katanya.
Baju-baju yang dibuat dari kain sisa itu, dipasarkan sendiri dengan berkeliling desa. Dari Lotim hingga Lombok Utara. Puluhan pakaian yang dibuatnya selalu habis terjual.
Bahkan dirinya juga kerap mendapatkan pesanan untuk membuat baju seragam sekolah dan kantor. Hanya saja, Mahdan hanya menerima pesanan dalam jumlah sedikit. Maklum mesin jahit dan tenaganya sudah sama-sama tak kuat lagi.
”Paling banyak 5-6 setel saya ambil. Kalau ambil banyak-banyak takut tidak cepat selesai,” katanya.
Untuk menyelesaikan pekerjaannya Mahdan dibantu istrinya. Terkadang memproduksi lebih banyak baju, ia bersama istrinya berbagi tugas. Istri di rumah akan menjahit, sementara dirinya keliling untuk jualan.
Pakaian hasil produksinya dijual dengan harga paling mahal Rp 50 ribu. Uang jualannya digunakan Mahdan untuk kebutuhan sehari-hari. Sisanya kemudian disisihkan untuk modal membeli kain.
Kata dia, menjahit merupakan satu-satunya pekerjaan yang bisa diandalkannya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tidak jarang, ia libur karena tidak ada kain sisa yang bisa dibeli dari penjahit lain.
Meski kondisinya tidak seberuntung penjahit lain, Mahdan tetap bersyukur di tengah keterbatasan. Saat ini keinginan terbesarnya adalah mengganti mesin jahit miliknya agar lebih layak agar bisa lebih produktif. (*/r11)
Editor : Akbar Sirinawa