Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Perjuangan Supaedi, Disabilitas Tunadaksa di Lotim yang Live Aktivitas Memulungnya di TikTok untuk Sekolah Anaknya

Supardi/Bapak Qila • Senin, 9 Desember 2024 | 12:55 WIB

 

BERSIHKAN: Penyandang disabilitasSupaedi, asal Dusun, Montong Meong, Desa Labuhan Haji, Kecamatan Labuhan Haji, saat membersihkan botol-botol plastik bekas di rumahnya yang dikumpulkan.
BERSIHKAN: Penyandang disabilitasSupaedi, asal Dusun, Montong Meong, Desa Labuhan Haji, Kecamatan Labuhan Haji, saat membersihkan botol-botol plastik bekas di rumahnya yang dikumpulkan.
 

Supaedi merupakan penyandang disabilitas tunadaksa. Kedua tangannya diamputasi setelah mengalami kecelakaan kerja pada 2021 lalu.

Saat ini, Supaedi mengumpulkan plastik bekas dan membuat konten di TikTok untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama istri dan dua orang anaknya. Berikut ulasannya.

----------------------------

Tidak jauh dari jalan Raya, Montong Meong, Desa Labuhan Haji, Lombok Timur (Lotim) sesosok pria muda tanpa kedua tangan dikelilingi botol-botol plastik.

Ia terlihat memilah dan membersihkan botol-botol plastik bekas menggunakan lengannya.

Di depan lelaki yang bernama Supaedi itu, terlihat sebuah ponsel terpasang di tripod. Sesekali ia berbicara dan mengucapkan terima kasih di depan ponselnya.

Hilangnya kedua tangan Supaedi berawal dari kecelakaan kerja, saat menjadi tukang bangunan.

”Saat menaikkan besi, kena kabel listrik tegangan tinggi. Saya langsung kesetrum dan badan saya terbakar,” beber Supaedi, Minggu, (8/12).

Sengatan listrik itu mengakibatkan separuh tubuh bagian kirinya terbakar.

Sempat membuatnya tidak bisa berjalan.

Sementara kedua tangannya diamputasi hingga menyisakan lengan bagian atas.

Hal itu terpaksa dilakukan agar kerusakan tidak menjalar ke anggota tubuh yang lain.

Waktu berlalu. Supaedi akhirnya menerima peristiwa tragis yang menghilangkan kedua tangan. Ia Ikhlas dan menganggap itu sebagai takdir.

”Sempat sedih. Tapi mau bagaimana lagi, kita harus terima dengan ikhlas. Mungkin ini perjalanan hidup yang harus saya jalani,” bebernya.

Tahun pertama hidup tanpa kedua tangan diakuinya sangat berat.

Namun ini bukan soal tangannya, melainkan keberadaan dua anaknya yang masih kecil, yang saat ini sudah duduk di bangku SD dan SMP.

Supaedi merasa tidak mampu menafkahi istri dan membiayai sekolah anaknya.

Setelah sembuh dari rasa sakit, Supaedi mulai bangkit. Ia mengumpulkan barang bekas dari sekitar rumah.

Istrinya sempat melarang, namun supaedi tetap ngotot, agar kebutuhan keluarganya terpenuhi.

Pada 2024, Supaedi berpikir kreatif.

Ia merekam aktivitas memulungnya dengan ponsel. Kemudian diunggah ke TikTok, dengan niat hiburan semata.

Video aktivitasnya rutin diunggah Supaedi.

Ia juga diajari kawannya untuk mengedit video, agar lebih bagus dan menarik.

Supaedi juga tekun belajar dengan bantuan kaki dan sisa tangannya untuk membuat video.

Usahanya berbuah manis. Akun TikTok Supaedi dengan nama Upae.2mans menarik banyak penonton.

Ia juga kerap mendapat hadiah dari penonton.

Di setiap harinya Supaedi Live di akun TikTok dan mengumpulkan hadiah, yang bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

”Alhamdulillah sejak aktif di media sosial ini saya semakin semangat,” katanya.

Saat ini, Supaedi memiliki penghasilan tetap dari TikTok. Meski tidak banyak, namun sudah cukup membantu biaya sekolah anaknya.

Meski demikian, Supaedi menyebut tidak berharap lama dari konten media sosial.

Ia ingin memiliki pekerjaan lain untuk bertahan hidup.

”Ingin punya usaha yang lebih besar, tapi tidak punya modal. Karena tidak mungkin akan terus menjadi konten kreator,” ujarnya. (Supardi/r11)

Editor : Kimda Farida
#disabilitas #tiktok #bangkit #botol #tragis #bekas #tunadaksa