Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cuaca Buruk, Petani Garam Lombok Timur Libur Produksi

Supardi/Bapak Qila • Kamis, 12 Desember 2024 | 15:10 WIB

 

VERIFIKASI: Sentra garam di Pemongkong, Lombok Timur dikunjungi tim ahli Indikasi Geografis Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, untuk melakukan verifikasi perlindungan Indikasi Geografis.
VERIFIKASI: Sentra garam di Pemongkong, Lombok Timur dikunjungi tim ahli Indikasi Geografis Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, untuk melakukan verifikasi perlindungan Indikasi Geografis.
 

LombokPost-Hujan dengan Intensitas cukup tinggi yang mengguyur Lombok Timur (Lotim) beberapa hari belakangan ini, membuat petani garam di Desa Pemongkong, menghentikan produksinya.

”Kalau sudah kebanjiran, tidak bisa produksi lagi. Untuk produksi garam cuacanya harus betul-betul panas,” terang Nasrullah salah seorang petani garam asal Desa Pemongkong, Rabu (11/12).

Satu minggu terakhir, petani telah menghentikan produksi garamnya.

Kondisi ini kerap terjadi setiap tahun dan akan berlangsung 3-4 bulan ke depannya.

Saat libur produksi, para petani garam terpaksa kembali menjadi buruh lepas.

Kata Nasrullah, musim kemarau pada tahun ini dinilai cukup panjang. Sehingga petani bisa menyetok garam lebih banyak.

Dalam satu petak tambak, bisa dihasilkan hingga 4 kuintal garam dalam sekali panen.

”Tetapi kalau sudah panen dua kali hasilnya akan meningkat dalam satu petak itu. Misalnya pada Juli kita dapat 4-6 kuintal, nanti bulan berikutnya bisa 1 ton lebih, karena semakin lama cuaca semakin panas. Bahkan ada juga yang bisa panen dua kali sebulan,” jelasnya.

Lebih lanjut, saat musim hujan, harga garam cenderung tidak berubah.

Harga diprediksi bakal naik menjelang berakhirnya musim hujan atau ketika petani mulai kembali berproduksi.

Saat ini, harganya masih di angka Rp 85 ribu-Rp 100 ribu per karung ukuran 85 kilogram.

Petani lainnya, Sri Wahyuni menambahkan bagi petani garam tradisional, pada musim hujan para petani akan libur produksi selama 3-4 bulan.

Namun bagi petani garam dengan metode prisma yang diolah dengan media geomembran, tidak berpengaruh terhadap cuaca.

”Kalau kami tidak berani produksi, walaupun sudah panas seminggu. Karena pernah sekali tiba-tiba hujan pada saat mau panen, garamnya langsung rusak,” katanya. (par/r11)

Editor : Kimda Farida
#produksi #tambak #panen #Banjir #Lotim #cuaca #garam #panas #tradisional