Darul Muttaqien NWDI Prian merupakan salah satu ponpes di Lotim yang fokus mencetak penghafal Al-Quran.
Metode yang digunakan untuk mencetak Hafiz dinilai cukup berbeda dengan ponpes yang lain, sehingga membuat para santri bisa cepat hafal dalam waktu yang cukup singkat.
--------------------------
Pagi itu hujan lebat mulai turun membasahi Desa Prian, Kecamatan Montong Gading.
Namun yang turun tak membuat orang-orang yang tengah berkumpul di tenda beranjak dari tempat mereka.
Puluhan orang itu hendak menyaksikan anak-anak mereka yang akan di wisuda pada program khusus Tahfizul Qur'an angkatan III-IV, di Ponpes Darul Muttaqien NWDI Prian.
Setelah berhasil menyelesaikan hafalan mereka selama sembilan bulan terakhir ini.
Pengasuh Ponpes Darul Muttaqien NWDI Prian TGH Adirimbun Kusumanegara menceritakan, pada awal berdirinya ponpes tersebut pada 74 tahun lalu, programnya hanya Bahasa Arab dan Inggris.
Namun, melihat keinginan masyarakat terkait program tahfiz sangat besar, sehingga program tahfiz Alquran dan kitab kuning diadakan.
”Alhamdulillah program Tahfiz Qur’an ini sudah empat angkatan. Tahun ini kita wisuda 37 orang. Kalau angkatan pertama 1-3 kemarin itu sekitar 30 orang lebih,” jelasnya, Minggu (22/12).
Santri-santriwati yang di wisuda saat ini merupakan hafiz. Sebagian besar menghafal 30 juz, namun ada juga yang 15 juz,
Program tahfiz Qur’an di Darul Muttaqien, tidak hanya sebatas menghafal secara lisan.
Tapi harus juga lulus makhorijul huruf, hukum bacaan hingga harus mengetahui posisi masing-masing ayat dan suratnya.
Metode menghafalnya disebut menjadi yang pertama di Lombok.
Sehingga membuat santri bisa menghafal 30 juz Al-Quran hanya dalam tempo 3-4 bulan.
”Kita saring dulu santri-santriwati yang betul-betul memiliki bacaan Al-Quran yang bagu, setelah itu diajar menghafal dari nol,” jelasnya.
Adapun metodenya menggunakan metode menghafal Ummi atau per jilid. Sehingga santri-santriwati harus lulus di jilid satu, baru lanjut ke jilid berikutnya.
Metode tersebut juga fokus pada irama, bacaan, tajwid, dan garib dalam Al-Quran.
Metode ini diakui tidak banyak yang mengetahuinya, sehingga bagi masyarakat yang baru pertama kali mendengarkan tidak akan tahu hukum-hukum bacaannya.
Kelas program khusus Tahfiz ini juga berbeda dengan tempat-tempat lainnya.
Di mana kelas yang digunakan merupakan kelas alam, atau hanya belajar di berugak terbuka. Tidak menggunakan kelas pada umumnya.
Kelas ini berangkat dari keterbatasan biaya untuk membuat ruangan kelas.
Kata Adirimbun, hafiz bukan menghafaal bacaan Al-Quran secara lisan semata.
Tapi harus juga menerapkan apa yang ada di dalam Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari.
”Sebagai pedoman dalam kehidupan,” jelasnya.
Dari program tahfiz, banyak alumni Ponpes Darul Muttaqien NWDI Prian bisa bersekolah tinggi.
Masuk kampus-kampus ternama di dalam maupun luar negeri, seperti Universitas Al Azhar, Mesir dan Umm Al-Qura, Arab Saudi. (Supardi/r11)
Editor : Kimda Farida