Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

20 Tahun Vakum Perajin Wayang Kulit Lombok Timur Mulai Bangkit, Kemunculan Dalang Baru Bikin Ekosistem Wayang Kulit Bergairah

Supardi/Bapak Qila • Senin, 30 Desember 2024 | 09:46 WIB

 

MENJAGA WARISAN: Hayyun, perajin wayang kulit, memperlihatkan sejumlah wayang kulit buatannya, belum lama ini.
MENJAGA WARISAN: Hayyun, perajin wayang kulit, memperlihatkan sejumlah wayang kulit buatannya, belum lama ini.
 

Hayyun, 58 Tahun merupakan salah satu perajin wayang kulit asal Lombok Timur (Lotim). Karyanya cukup terkenal di kalangan pencinta kesenian wayang. Meskipun sempat vakum selama 20 tahun, kini karyanya kembali dilirik dan eksis. Berikut ulasannya.

Lombok Timur.

Tak Jauh dari pusat Balai Pelatihan Vokasi Dan Produktivitas (BPVP) Lotim, sekelompok laki-laki berusia senja sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing di sebuah pande besi. Ada yang bertugas memotong besi, menghaluskan gagang pisau dan memukul besi yang sudah dibakar.

Di tembok gudang pande itu, puluhan wayang kulit ditempel rapi. Tokoh-tokoh wayang itu terlihat gagah, menggambarkan seorang raja pada zaman kerajaan dulu. Berbagai aksesoris mewah tergambar dari pahatan dan warna yang diberikan dalam wayang tersebut. Beberapa wayang terlihat sudah berumur puluhan tahun, namun sebagian terlihat masih setengah jadi.

Wayang-wayang ini merupakan karya dari Hayyun, warga Dusun Lenek Ramban Biak, Desa Lenek Daya, Lotim. Ia merupakan perajin wayang kulit sejak berumur belasan tahun. Ilmu itu didapatkan otodidak dari hasil melihat orang tuanya bermain wayang.

”Orang tua dan masyarakat Lenek Ramban Biak dulu sebagian besar cinta dengan berbagai kesenian, salah satunya wayang. Bahkan saya juga ikut menjadi salah satu pemain musik dalam pentas wayang,” beber Hayyun saat menceritakan masa-masa kejayaan wayang kala itu, Minggu (29/12).

Meski menjadi keturunan dalang dan ikut langsung bermain wayang, namun Hayyun tak berbakat sebagai dalang. Karena kurang menghafal cerita-cerita dalam wayang. Terlebih cerita yang dibawakan sebagian besar menggunakan bahasa Sansekerta.

Kendati demikian, Hayyun memiliki bakat lain, yakni membuat wayang kulit, wayang kayu, melukis dan membuat pisau. Meski belajar otodidak, namun karyanya cukup bagus. Setiap tokoh wayang dibuat dengan cukup detail. Mulai dari warna baju, perhiasan, senjata bahkan model rambut sang tokoh.

”Kita harus betul-betul detail dalam membuat, tidak boleh asal-asalan. Karena yang kita gambarkan ini adalah seorang raja jadi harus betul-betul teliti membuatnya,” jelasnya.

Tidak hanya belajar secara otodidak, alat memahat wayang juga dibuat sendiri. Hampir semua tokoh wayang Lombok dengan jumlah 200 lebih, bisa dibuat beserta dengan perlengkapan wayang yang lainnya, tanpa melihat gambar. Semuanya masih dihafal dengan baik. Mulai dari bentuk dan warna pakaian masing-masing tokoh, pun model aksesoris yang digunakan. Semuanya tersimpan kuat di dalam pikiran dan hatinya.

Kata dia, sejak 20 tahun lalu, dirinya dan teman-temannya tidak pernah lagi bermain wayang kulit. Semenjak tokoh wayang atau dalang di Lenek Ramban Biak meninggal. Tidak ada lagi generasi yang meneruskan budaya ini. Padahal alat dan pemain musik masih lengkap sampai sekarang.

”Ada keturunan dalang yang dulu kami suruh untuk melanjutkan, tetapi agak kurang tertarik. Mungkin karena zamannya sudah berubah dan kesibukan, sehingga tidak sempat mendalami ilmu memainkan wayang. Karena menjadi dalang ini tidak sembarangan, harus menghafal berbagai kisah dan sebagainya,” ungkapnya.

Kata dia, sejak ditinggal sang dalang, ditambah dengan kemunculan TV, handphone, internet, kesenian wayang mulai jarang dilihat. Hal itulah yang membuatnya memutuskan untuk meninggalkan kesenian wayang dan beralih menjadi seorang pande besi dengan teman-teman pemain wayang yang lain.

Namun dua tahun terakhir ini, ia dan teman-temannya mulai menghidupkan kesenian wayang kulit Lombok. Setelah munculnya seorang dalang, yang menjadi harapan baru bagi mereka untuk bisa memainkan melestarikan wayang kulit di Lotim.

”Kami belum bisa berani pentas, dalangnya masih dalam tahap belajar. Kalau sudah siap kami akan coba hidupkan lagi, supaya tidak mati dan hilang selamanya,” katanya. (SUPARDI/r11)

Editor : Akbar Sirinawa
#Lenek #vokasi #pahatan #Kalangan #karya #kesenian #wayang #kulit #vakum #Lotim