LombokPost-Petugas Puskesmas Sakra melakukan fogging di Dusun Perenang, Desa Kabar. Hal ini dilakukan setelah banyaknya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang ditemukan di dusun tersebut selama satu bulan terakhir ini.
”Sejak akhir Desember-Januari ini ada empat kasus DBD yang kami temukan di sini (Dusun Perenang, red),” terang Koordinator Program DBD Puskesmas Sakra Nurul Hakiqah, Rabu (8/1).
Fogging dilakukan setelah sebelumnya dilakukan sosialisasi dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di rumah-rumah warga yang terkena DBD dan sekitarnya. Dengan radius 100 meter.
Selama Januari kasus DBD yang ditemukan di Kecamatan Sakra baru empat kasus, Didominasi tiga kasus di Dusun Perenang. Hampir setiap tahun Dusun Perenang menjadi daerah langganan kasus DBD, bahkan sudah masuk zona merah.
”Yang terkena DBD semuanya anak-anak, usianya dari 2-4 tahun,” jelasnya.
Kata dia, banyaknya kasus DBD yang ditemukan salah satunya disebabkan kurangnya pola hidup sehat masyarakat. Ditambah mobilisasi masyarakat cukup tinggi dan banyak yang menjadi peternak unggas.
Peralihan musim panas ke musim hujan diakui kerap terjadi peningkatan kasus DBD di Lotim, khususnya di Kecamatan Sakra. Terlebih wilayah selatan merupakan daerah langganan kekeringan sehingga banyak masyarakat yang menampung air ketika kemarau, yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
”Kondisi pasien yang terkena DBD Alhamdulillah hari ini sudah mulai membaik. Satu lagi saat ini masih di rawat di Rumah sakit karena pasien kita rujuk. Tetapi informasinya sudah bisa pulang hari ini,” jelasnya.
Sementara itu, salah seorang keluarga pasien DBD Musti Ayu menceritakan awalnya keponakannya yang baru menginjak usia dua tahun itu, mengalami demam biasa. Namun beberapa hari dirawat di rumah demamnya tidak kunjung turun. Bahkan pasien sempat kejang-kejang karena panas yang terlalu tinggi, sehingga langsung dilarikan ke puskesmas.
Setelah tiga hari di Puskesmas, pasien kemudian dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Mengingat kondisi pasien saat itu diakui cukup parah. Setelah menjalani perawatan selama lima hari di rumah sakit kondisinya mulai membaik.
Disebutkan, keluarga awalnya sempat takut membawa pasien ke Puskesmas, lantaran BPJS Kesehatannya bermasalah. Namun karena kondisi pasien semakin parah, keluarga akhirnya memutuskan untuk membawa pasien.
”Alhamdulillah setelah dibantu Dinas Kesehatan Lotim, BPJS kesehatan pasien aktif,” tandasnya. (par/r11)
Editor : Rury Anjas AnditaSumber : Lombok Post