Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Nasib Kerajinan Tikar Mendong yang Terancam Punah, Generasi Muda Enggan Meneruskan karena Upah Kecil

Supardi/Bapak Qila • Rabu, 15 Januari 2025 | 15:52 WIB

  

BEKERJA: Kamariah, salah satu perajin asal Dusun Paok Pondong, Desa Lenek Kecamatan Lenek saat membuat tikar mendong di rumahnya.
BEKERJA: Kamariah, salah satu perajin asal Dusun Paok Pondong, Desa Lenek Kecamatan Lenek saat membuat tikar mendong di rumahnya.

Tikar tradisional atau disebut tikar mendong merupakan salah satu kerajinan di Lombok Timur (Lotim) yang sampai saat ini masih tetap eksis.

Meski pembuatnya semakin sedikit, pasar tikar mendong kembali menggeliat. Berikut ulasannya. 

--------------------

Awan pekat siang itu mulai menyelimuti sebagian wilayah Lotim. Pertanda hujan lebat tidak lama lagi akan turun.

Hal itu membuat warga di Dusun Paok Pondong, Desa Lenek, Kecamatan Lenek, berhamburan keluar mengambil mendong kering yang tengah dijemur.

Tanaman mendong merupakan cikal bakal pembuatan tikar tradisional.

Warga setempat menyebutnya tikar mendong.

Meski tikar tradisional, namun tikar ini tetap laris di tengah menjamurnya tikar modern dan karpet mewah.

Kamariah, salah seorang pembuat tikar mendong menyampaikan, sebelumnya hampir semua masyarakat di Paok Pondong menjadi perajin tikar mendong.

Namun saat ini hanya tersisa puluhan orang saja.

”Dulu hampir semua rumah bikin. Sekarang cuma 40 orang paling banyak,” katanya.

Beberapa tahun sebelumnya, tikar mendong sempat akan vakum.

Baca Juga: Harapan Sulhayati dari Balik Dinding Rusunawa, Berharap Anak-Anaknya Bernasib Lebih Baik

Namun setelah adanya gerakan dan kepedulian warga dengan membuat kelompok perajin, tikar mendong mulai bangkit dan dimodifikasi.

”Kemarin ada pameran di Islamic Center, Alhamdulillah semua tikar yang dipamerkan habis terjual. Dari sana perajin mulai bangkit dan semangat lagi membuat tikar,” katanya.

Proses pembuatan tikar dinilai cukup rumit dan membutuhkan waktu cukup lama.

Tanaman mendong yang telah dipanen akan dibersihkan terlebih dahulu, kemudian dijemur.

Setelah itu dimasak, lalu diberikan warna dan dijemur kembali. Baru setelah kering, dibuat menjadi tikar, atau kerajinan lain.

Musim hujan seperti saat ini menjadi musim paling berat bagi perajin tikar mendong.

Hal ini dikarenakan tanaman mendong sangat rentan rusak terkena air.

Tikar yang dibuat dari mendong basah akan mudah rusak, hitam dan cepat lusuh.

Dalam sehari perajin bisa membuat 2-3 tikar, jika dikerjakan dengan tekun.

Namun karena masih merupakan pekerjaan samping, satu tikar mendong bisa rampung 2 hari.

Peminat tikar mendong diakui masih cukup tinggi. Hal ini dikarenakan tikar mendong memiliki kelebihan sendiri. Yakni dapat menyesuaikan kondisi cuaca.

Perajin tikar mendong di Dusun Paok Pondong sebagian besar dari kalangan ibu-ibu berusia 45 tahun ke atas.

Sementara dari kalangan anak muda tidak ada.

Hal ini dikarenakan upah yang didapatkan sangat kecil, sehingga kurang menarik generasi muda.

Dikhawatirkan 10 tahun ke depan kerajinan ini akan punah, lantaran tidak ada generasi muda yang meneruskan.

Dirinya berharap pemerintah dapat membantu pengrajin untuk mempertahankan kerajinan mendong tersebut.

Salah satunya dengan memberikan bantuan modal untuk membeli bahan baku.

Maupun melakukan kegiatan yang bisa menyentuh semua kalangan masyarakat, terutama anak-anak muda.

”Sekarang kepala dusun mulai melakukan berbagai kegiatan, salah satunya dengan membuat kelompok, memberikan edukasi dan kegiatan lainnya untuk mempertahankan kerajinan ini supaya tidak punah,” tutupnya. (Supardi/r11)

Editor : Kimda Farida
#Eksis #Tikar #tanaman #pasar #punah #tengah #Lotim #Mempertahankan #kerajinan #tradisional