LombokPost-Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Lombok Timur (Lotim) pada tahun ini menargetkan Kecamatan Sembalun sebagai penghasil susu sapi.
Ini untuk mendukung ketahanan pangan terutama dalam menyuplai kebutuhan susu.
”Nanti ada program pemerintah pusat yang akan kita kirim ke sana (Sembalun, red). Kondisi di Sembalun sangat mendukung untuk pengembangan sapi perah,” terang Kepala Disnakeswan Lotim H Masyhur.
Beberapa bulan sebelumnya, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian RI sudah turun mensurvei lokasi.
Dari 10 kabupaten/kota di NTB, hanya Lotim yang memenuhi syarat dijadikan daerah pengembangan sapi perah.
”Nanti sapinya akan didatangkan pemerintah pusat langsung. Hanya Lotim yang lolos survei sebagai lokasi pengembangan sapi perah ini. Karena ketersediaan air di Lotim cukup mendukung,” katanya.
Lahan yang dibutuhkan untuk peternakan sapi perah bisa mencapai 500 hektare.
Untuk itu, jika program tersebut berjalan, lahan-lahan di pinggir Gunung Rinjani akan dijadikan sebagai tempat peternakan sapi perah. Dengan catatan diizinkan Pemprov NTB.
Tidak hanya Sembalun, daerah selatan seperti Kecamatan Keruak, Jerowaru, Sakra, Sakra Timur dan Sakra Barat akan dijadikan sebagai sentra budi daya kambing.
Mengingat wilayah selatan merupakan daerah dengan intensitas hujan rendah, sehingga sangat mendukung pengembangan peternakan kambing.
”Kita akan buat kawasan-kawasan. Misalnya kawasan sapi potong, sapi perah, peternak kambing, ayam petelur dan lain sebagainya,” imbuhnya.
Dengan adanya sentra peternak ini, diyakini memudahkan menjalankan program pemerintah dan berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan peternakan dan masyarakat.
Terlebih dengan adanya program makan bergizi gratis (MBG).
”Susu, telur akan terserap oleh program MBG. Apalagi program ini akan berkelanjutan. Mudah-mudahan program ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat kita,” tandasnya.
Sementara itu, Pj Bupati Lotim H M Juaini Taofik menyampaikan, salah satu persoalan peternak yang masih menjadi perhatian adalah penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK).
Untuk itu Pemkab Lotim akan terus mendukung program pencegahan PMK di Lotim.
”Meskipun keterbatasan anggaran, kita akan manfaatkan dana belanja tidak terduga (BTT) untuk pencegahan PMK,” terangnya.
Kata dia, peternakan sebagai salah satu komponen penyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) bersama pertanian.
Terlebih populasi ternak di Lotim, dinilai cukup besar, yakni mencapai 150 ribu. (par/r11)
Editor : Kimda Farida