LombokPost-Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Pelindung Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Lombok Timur (Lotim) H Ahmat meminta korban kekerasan tidak takut melapor. “Semakin banyak yang melapor maka semakin bagus dan bisa kita tangani dan kita kawal kasusnya. Supaya para pelaku juga bisa diberikan hukuman yang sesuai,” terangnya, Selasa (29/4).
Kasus kekerasan anak di Lotim masih tinggi, menduduki posisi teratas di antara 10 kabupaten/kota di NTB. Tingginya kasus ini salah satunya ialah karena jumlah penduduk terbanyak di NTB ialah Lotim.
Selain itu, para korban atau keluarga korban sudah mulai berani untuk melapor, sehingga secara data banyak yang mencuat. Untuk itu ia sangat mengapresiasi korban yang sudah berani bersuara. “Justru kabupaten/kota yang lain yang angkanya kecil, mungkin saja karena mereka tidak berani melapor, atau tidak tahu cara mereka melapor,” bebernya.
Untuk meminimalisir dan mencegah kasus kekerasan terhadap anak, DP3AKB Lotim telah menyebar nomor yang bisa dihubungi. “Kita apresiasi masyarakat kita yang sudah berani berbicara dan melapor. Kalau dulu mereka tidak tahu cara dan di mana harus melapor,” katanya.
Sepanjang tahun 2025 ini, jumlah laporan kekerasan anak di Lotim 23 kasus. Baik keker fisik, seksual, pernikahan anak dan kekerasan lainnya. “Tahun 2024 kasus yang terlaporkan hanya 48 kasus. Makanya kami curiga kasus ini sebenarnya banyak tapi mereka tidak berani melapor. Sekarang saja baru empat bulan sudah 23 kasus,” pungkasnya.
Sekda Lotim HM Juaini Taofik menambahkan tingginya kasus kekerasan terhadap anak di Lotim merupakan hal yang wajar. Mengingat penduduk Lotim, khususnya anak terbanyak di NTB. “Kita harus punya kesabaran untuk melawannya dan meningkatkan pengawasan,” katanya.
Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Lotim, Judan Putra Baya meminta semua pihak untuk lebih serius meminimalisir kasus kekerasan seksual terhadap anak. “Kalau kita berbicara masalah faktor penyebab maraknya kasus kekerasan seksual ini banyak sekali. Namun kami lebih menitikberatkan kepada pengawasan orang tua, keluarga. Karena berdasarkan data-data yang ada sebagian besar korban ini ialah mereka yang secara umum terabaikan, kurang diperhatikan,” tutupnya. (par/r6)
Editor : Prihadi Zoldic