Dewi Nur Afrilia merupakan satu dari sedikit guru tari di Lombok Timur (Lotim).
Stigma masyarakat tentang tari harus diakui kurang begitu bagus, itulah yang dia lawan.
--------------------------------
D salah satu halaman rumah dengan pagar bambu sore itu dipenuhi gadis-gadis muda.
Mereka terlihat menggunakan selendang yang diikatkan di pinggang, dilengkapi kain tenun khas Lombok.
Baca Juga: Perkenalkan Adat Budaya Pada Hari Tari Sedunia di TMII Jakarta
Sementara satu orang perempuan yang juga masih muda lainnya ada di depannya.
Memberikan aba-aba sekaligus sebagai pemandu gerakan.
Musik gamelan dari speaker kecil mulai dinyalakan.
Perlahan tangan dan kaki mulai bergerak.
Mereka terlihat begitu cekatan menari mengikuti alunan musik.
Hal itu menarik perhatian dan menjadi tontonan masyarakat sekitar.
De Sasih itulah nama yang disematkan Dewi Nur Afrilia seorang guru tari asal Lingkungan Pancor Sanggeng, Kelurahan Sekarteja, Lombok Timur (Lotim), kepada sanggar tari miliknya.
Sanggar yang baru beberapa tahun didirikan ini sebagai tempat mengajar anak-anak muridnya berbagai model tarian.
Mulai dari tari kontemporer, tari modern dan tari tradisional.
“Sebelumnya, sanggar ini terbuka untuk umum, mulai dari anak-anak SD-SMA. Tapi sekarang yang isi hanya siswa SMP saja. Tapi ke depan kita akan buka lagi untuk umum,” terang perempuan muda yang akrab di sapa Bu Dewi itu, Senin (5/4).
De Sasih yang memiliki makna bulan, dibentuk sebagai panggung atau wadah bagi anak-anak muridnya di sekolah tempat untuk mengembangkan bakat yang dimiliki.
Mengingat jika hanya mengandalkan belajar di sekolah tidak cukup waktu.
Kata dia, anak-anak yang diajarkan menari tersebut, sebagian besar adalah anak-anak yang jarang terlihat atau tersorot di sekolah.
Namun ia melihat mereka memiliki bakat dan talenta tersembunyi, yang tidak dimiliki oleh anak-anak lain.
“Itulah kenapa saya namakan sanggar ini De Sasih. Jadi tempat ini sebagai wadah anak-anak yang jarang terlihat muncul ini untuk mengembangkan bakat mereka. Layaknya bulan yang keluar di waktu tertentu, dan akan memberikan keindahan dan menakjubkan,” bebernya.
Sebelumnya, ia tidak ada keinginan untuk membuat sanggar, namun ia melihat banyak anak-anak muridnya yang memiliki bakat terpendam, dia merasa terpanggul.
Sangat disayangkan jika bakat itu tidak diasah.
Melalui sanggar tari ini ia juga ingin mengubah stigma yang berkembang di sebagian masyarakat tentang tari.
Masih banyak yang menganggap kesenian tari sangat negatif. Dipandang sebelah mata, Bahkan dikaitkan dengan hal-hal bernuansa erotis yang dipertontonkan ketika ada acara-acara adat.
Padahal menurutnya seni tari tidak seperti itu.
“Tari itu ada aturan dan batasan-batasan yang harus diikuti. Tari itu ada ilmunya,” katanya.
Ia melihat, peminat tari di tengah-tengah masyarakat saat ini masih kurang. Tak lain karena stigma negatif yang kadung berkembang. Namun Sebagian masyarakat sudah mulai tercerahkan.
Diceritakannya pula, sejak masih duduk di bangku SD ia sudah hobi menari. Hobinya itu kemudian ia lanjutkan dan kembangkan di bangku kuliah dengan mengambil Jurusan Seni Drama Tari dan Musik di Universitas Hamzanwadi Pancor.
“Sejak masuk kuliah tahun 2016 itu saya aktif menari. Selain belajar di kampus, saya belajar juga di sanggar tari di Masbagik,” terangnya.
Perjalanan untuk menjadi penari profesional diakui cukup panjang dan melelahkan. Bahkan dirinya sempat ingin berhenti untuk menjadi guru tari.
Namun berkat dorongan dan semangat orang tua, ia berhasil menjadi salah satu guru tari profesional di Lotim.
Bahkan dirinya berhasil menciptakan beberapa tari tradisional. Mulai dari tari sesal, tari sembah, tari ngater dan beberapa tari lainnya.
Semua tari-tarian itu diakui memiliki makna dan cerita yang hendak disampaikan.
Turut dijelaskan, tari yang dipelajari selama ini jauh berbeda dengan tari-tarian yang dipertontonkan dan dinilai negatif oleh masyarakat.
“Menjadi penari itu tidak mudah, kita harus peka terhadap musik. Selain menari bayak hal yang harus kita pelajari. Seperti belajar musik, menari dan tata rias. Jadi bukan sekedar menggerakkan badan saja. Jadi saya berharap masyarakat bisa memandang tari itu dari sisi positif, jangan hanya di pandang dari sisi negatif saja,” tutup guru seni budaya SMPN 1 Selong itu. (Supardi/r6)
Editor : Kimda Farida