Dr Soedjono lahir, hidup, dan meninggal saat Indonesia masih dijajah Belanda. Namun ia tak diam saja, sesuai kemampuannya sang dokter ikut berjuang.
Selamat Datang di RSUD Dr Soedjono Selong. Kalimat ekstra besar itu terpampang di halaman depan rumah sakit milik Pemkab Lotim. Itu adalah salah satu bentuk penghargaan sekaligus pengakuan yang diberikan pemerintah daerah pada Raden Soedjono. Kendati tak pernah menerima medali kehormatan apa pun dari pemerintah, pengabadian namanya sebagai nama rumah sakit di Selong dan nama jalan di Mataram sudah menjadi bukti.
Baca Juga: Mengenang Perjuangan Dr Soedjono 2, Naik Kuda Keliling Lombok Bawa Obat
Bukti yang menandakan bahwa Soedjono telah berbuat. Sepanjang hayatnya, ia tak pernah merasakan kemerdekaan. Dilahirkan 1879 lalu, Soedjono wafat setahun sebelum kemerdekaan Indonesia, tepatnya 16 Februari 1944. Disemayamkan di Ampenan, kini orang hanya bisa mengenangnya.
Banyak sumber mengatakan Dr Soedjono tak hanya sebagai seorang dokter belaka. ia adalah aktivis yang banyak berkegiatan dalam bidang sosial. Menjalani peran utama sebagai dokter, ia membuat klinik kecil di salah satu sudut Selong, tepatnya di seputaran Puskesmas Selong saat ini. Di sela kegiatannya mengobati orang, ia juga berperan dalam bidang pendidikan. Soedjono mendirikan rintisan sekolah untuk warga pribumi. Kini sekolah itu menjelma menjadi SMPN 2 Selong, letaknya tepat di sebelah barat Pendopo Bupati Lotim. Setelah mendirikan sekolah dan mengajari anak-anak Lotim, Suami dari Baiq Rumite, Miah, dan Ilasih itu lantas memilih anak-anak terpintar. Mereka yang dianggapnya berprestasi dan memiliki peluang sukses dalam bidang akademik dikirimnya belajar ke Jawa untuk mendapat pendidikan lanjutan. ”Itu semua dari kocek pribadi,” ujar Raden Rahardian, sang cucu.
Jasa-jasanya Dr Soedjono itulah yang membuat namanya sangat harum di tengah masyarakat. Banyak warga akhirnya bersimpati padanya. Itulah yang membuatnya tak pernah sepi dari kunjungan tamu. Lambat laun, aksinya itu membuat Belanda dan Jepang si penjajah mulai gerah. Khawatir sang dokter menggerakkan rakyat untuk melakukan kudeta alias revolusi, ia terus dimata-matai. ”Tapi beliau pantang surut, baginya pengabdian itu tak boleh dibatasi,” ceritanya.
Dr Soedjono memang tak mengangkat senjata secara langsung. Namun kegiatan sosial yang dilakukan secara tak langsung membuat para penjajah ketar-ketir. Warga yang lebih mendengarkan dirinya dianggap sebuah ancaman. Dengan menjaga kesehatan dan meningkatkan kemampuan penerus dalam dunia pendidikan, Dr Soedjono sebenarnya tengah mengupayakan perjuangan dalam dimensi yang berbeda. Dengan masyarakat yang makin sehat dan berpendidikan, jelas semangat perjuangan akan lebih membara lagi.
Dalam buku ”Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Nusa Tenggara Barat” terbitan 1978/1979, nama Dr Soedjono beberapa kali disebut. Oleh Mamiq Fadelah, mantan Kepala Desa Dasan Lekong bersama Dr Soedjono keduanya memimpin gerakan Sapuq Puteq. Gerakan itu terus menjurus pada kegiatan sosial. Sehingga wibawa Belanda terus terkikis. Gerakan ini juga dikenal acuh tak acuh pada Belanda. Belanda yang marah dan khawatir dengan pergerakan itu lantas memindahkan Soedjono ke Madiun Jawa Timur.
Namun dasar cinta pada Lombok, setiap kali berkesempatan kembali, ia selalu datang lagi. Bahkan hingga akhir hayatnya, sang dokter terus mengabdi. Ketika sudah pensiun pun, di rumah peristirahatannya ia tetap melayani masyarakat, melakukan pengobatan dan transfer ilmu pendidikan. Terima kasih Dr Soedjono, jasamu sungguh besar. (WAHYU PRIHADI/r6/Habis)
Editor : Prihadi Zoldic