Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Samsul Padli, Tim Evakuasi Pendaki Brazil yang Terjatuh di Rinjani (2-Habis)

Lombok Post Online • Selasa, 1 Juli 2025 | 15:10 WIB

 

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
 

Tubuh Juliana tergeletak tak bernyawa di kedalaman 600 meter di tebing Gunung Rinjani.

Sementara di atasnya, angin dingin menyayat, tebing curam mengancam, dan waktu terus mendesak.

Di sinilah perjuangan Samsul Padli dan tim SAR dimulai, misi paling berat yang pernah mereka jalani selama puluhan tahun menyusuri perut Rinjani.

Baca Juga: Juliana Institute Akan Dibangun di NTB, Guide dan Porter Akan Diedukasi Cara Mandu Tamu Sesuai SOP Naik Gunung Rinjani

Medan curam, tebing berpasir, dan cuaca tak bersahabat menjadi tantangan terbesar dalam proses evakuasi Juliana.

Selama lima hari, Samsul Padli bersama tim berjuang sekuat tenaga agar jasad Juliana bisa segera diangkat.

Cuaca dingin seakan tak lagi terasa. Dengan penuh kehati-hatian, tubuh Juliana perlahan ditarik ke atas.

Penarikan dilakukan secara estafet untuk mempercepat evakuasi. Satu tim SAR ditugaskan mendampingi kantong jenazah guna mengantisipasi tersangkutnya kantong saat ditarik. Setelah semuanya siap, Samsul dan tim lain bergerak naik menuju ketinggian 400 meter.

“Kemudian bang Agam mendampingi korban agar saat ditarik mayat korban tidak menyangkut,” beber Samsul Padli.

Setelah tiba di ketinggian 400 meter, Samsul kembali naik ke atas dinding satu per satu, sementara kantong jenazah terus didampingi agar tidak tersangkut.

Tebing yang berpasir dan bebatuan lepas membuat kondisi sangat rawan longsor dan membahayakan tim di bawah, sehingga proses penarikan dilakukan dengan sangat hati-hati.

Bahkan, tim di ketinggian 400 meter tak bisa bergerak leluasa. Sedikit kesalahan bisa berakibat fatal bagi tim yang berada di bawah.

“Harus hati-hati jangan sampai nanti ada longsor atau bebatuan yang jatuh sehingga membahayakan tim di bawah. Setelah mayat tiba di lokasi kami, baru kita naik lagi satu per satu, begitu seterusnya sampai korban tiba di TKP,” jelasnya.

Samsul telah menjadi relawan SAR Unit Lombok Timur selama 19 tahun. Meski tanpa gaji dan penuh risiko, ia tetap menjalani tugas kemanusiaan itu dengan ikhlas. Semuanya semata karena panggilan hati untuk membantu korban dan keluarganya.

Selama bertugas, puluhan pendaki yang terjatuh di Gunung Rinjani telah berhasil dievakuasi. Namun, evakuasi Juliana menjadi yang paling berat. Kedalaman 600 meter yang dilalui menjadikannya misi tersulit. Sebelumnya, korban umumnya jatuh di kisaran 200 hingga 300 meter.

Cerita Samsul Padli, Tim Evakuasi Pendaki Brazil yang Terjatuh di Rinjani 
Cerita Samsul Padli, Tim Evakuasi Pendaki Brazil yang Terjatuh di Rinjani 

“Yang sudah saya evakuasi di Rinjani itu lebih dari 10 orang. Ada dari Israel, Malaysia, Surabaya, Masbagik, dan banyak lagi. Tapi ini paling dalam terperosok dan terberat proses evakuasi menurut saya,” kenangnya.

Sebagian besar pendaki yang dievakuasi ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Hanya segelintir yang selamat, meski mengalami luka berat dan butuh perawatan intensif.

Juliana diduga kembali terperosok ke dalam jurang karena sempat berpindah posisi mencari tempat aman sebelum tim SAR tiba. Pergerakan itu justru membuatnya jatuh lebih dalam.

“Kalau dari ilmu yang diajarkan di dalam SAR, ketika ada insiden kita harus diam di lokasi itu, sampai pertolongan datang. Tapi, kita tidak tahu juga situasi korban saat itu bagaimana, mungkin karena panik sehingga korban bergerak dan kembali terperosok,” katanya.

Sejak hari pertama korban terjatuh, Samsul langsung turun malam itu juga untuk mencarinya hingga kedalaman 300 meter. Ia bahkan sempat menginap seorang diri di kedalaman 200 meter. Namun, tubuh korban belum ditemukan.

Saat itu, tali yang digunakan hanya mampu menjangkau kedalaman 300 meter. Ia tak bisa turun lebih dalam karena keterbatasan perlengkapan.

“Perlengkapan yang kami miliki di SAR Lotim masih sangat terbatas. Makanya hari pertama itu tidak bisa turun lebih dalam,” ungkapnya.

Ia berharap insiden ini menjadi bahan evaluasi agar pengadaan peralatan SAR bisa ditingkatkan. Dengan peralatan yang memadai, proses evakuasi bisa lebih cepat dan aman.

“Kalau kami yang pengadangan alat mungkin tidak bisa. Mungkin nanti dari instansi terkait, seperti dari BPBD atau Damkarmat. Kalau kami tidak punya anggaran,” tutupnya. (SUPARDI, Lombok Timur/r7)

Editor : Siti Aeny Maryam
#rinjani #tim sar #samsul #Juliana #Tenaga #dingin