Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Jerowaru dan Suela Terdampak Kekeringan di Lombok Timur

Supardi/Bapak Qila • Jumat, 4 Juli 2025 | 17:17 WIB
Petugas BPBD Lotim menyalurkan air bersih ke Desa Puncak Jeringo, Kecamatan Suela, yang terdampak kekeringan. (Dok: Lombok post)
Petugas BPBD Lotim menyalurkan air bersih ke Desa Puncak Jeringo, Kecamatan Suela, yang terdampak kekeringan. (Dok: Lombok post)

LombokPost - Memasuki musim kemarau tahun ini, dua kecamatan di Lombok Timur (Lotim) mulai mengalami krisis air bersih. Dua wilayah tersebut yakni Kecamatan Jerowaru dan Kecamatan Suela.

“Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim kemarau basah sudah berakhir. Kita sekarang sudah memasuki musim kemarau,” terang Kalak BPBD Lotim Lalu Muliadi, Kamis (3/7).

Dari dua kecamatan terdampak, dua desa telah mengajukan permohonan pendistribusian air bersih, yaitu Desa Pemongkong, Kecamatan Jerowaru, dan Desa Puncak Jeringo, Kecamatan Suela.

Beberapa desa lain di Kecamatan Jerowaru juga mulai kesulitan air bersih, namun belum mengajukan permintaan bantuan. Melihat kondisi tersebut, BPBD Lotim segera mempertimbangkan penetapan status siaga kekeringan, dengan mengacu pada berbagai indikator, salah satunya ketersediaan air di sumur gali warga.

“Kita akan terjunkan tim untuk mengecek kondisi sumur warga,” imbuhnya.

Ia menambahkan, penetapan status siaga kekeringan juga akan dikoordinasikan dengan PDAM dan Dinas Pertanian, untuk mengecek kondisi air di beberapa kecamatan yang rutin terdampak kekeringan setiap tahun. Di antaranya Kecamatan Sakra, Sakra Timur, Keruak, Jerowaru, Suela, Sikur, dan Pringgabaya.

Terkait laporan kekeringan yang sudah masuk, BPBD akan mengerahkan mobil tangki untuk mendistribusikan air bersih. Diharapkan kekeringan tahun ini tidak separah 2024 lalu.

“Yang masih menjadi atensi kita adalah Kecamatan Jerowaru. Karena setiap tahun selalu terdampak,” tutupnya.

Sementara itu, pengelola pengisian air Lingkok Tutuk, Desa Tutuk, Kecamatan Jerowaru, Ahmad Yani mengatakan, permintaan air bersih mulai meningkat sejak awal Juni. Satu mobil tangki rata-rata mengantar 9–10 kali dalam sehari. Saat ini, terdapat 34 armada tangki di Jerowaru yang melayani warga.

“Jumlah armada di Jerowaru sebanyak 34 armada. Masing-masing armada paling sedikit mengantar dalam sehari 5–6 kali. Tapi kadang-kadang ada yang mengantar sampai belasan kali sehari,” ujarnya.

Permintaan air bersih banyak datang dari desadesa di wilayah selatan Jerowaru seperti Desa Sekaroh, Kwang Rundun, Ekas Buana, dan Seriwe. Air tersebut digunakan untuk memasak, mandi, mencuci, bahkan untuk minum.

“Bisa juga diminum, karena ada juga yang tidak bisa minum air isi ulang. Kalau untuk pertanian jarang, karena stok air di bendungan masih ada,” tutupnya. (par/r7)

Editor : Pujo Nugroho
#kemarau #Kekeringan #Lotim #kemarau basah #Jerowaru